Jangan Hanya Mencari, Belajarlah Mencintai Pilihanmu
OPINI
Oleh Umi Rokayah
Pegiat Literasi
Muslimahkaffahmedia.eu.org-Pernikahan bukanlah akhir dari kisah cinta. Justru, setelah akad diucapkan perjalanan cinta yang sebenarnya baru dimulai. Cinta dalam pernikahan bukan hanya tentang perasaan yang berbunga-bunga, tetapi juga tentang kesediaan untuk bertahan, memahami, dan terus belajar mencintai dalam berbagai keadaan.
Sebelum menikah cinta mungkin terasa begitu indah. Ada pesan yang ingin segera disampaikan, ada rindu dan selalu menunggu, ada perhatian kecil yang mampu membuat hati berbunga-bunga. Setiap pertemuan terasa istimewa, setiap percakapan menghadirkan kebahagiaan, dan kekurangan pasangan sering kali terlihat sebagai sesuatu yang bisa dimaklumi.
Namun, setelah menjadi suami istri kehidupan tidak selalu berjalan seperti yang dibayangkan. Pernikahan mempertemukan dua manusia dengan latar belakang, kebiasaan, cara berpikir, dan pengalaman hidup yang berbeda. Keduanya mungkin memiliki cara yang tidak sama dalam mengelola emosi, menyelesaikan masalah, mengatur keuangan, bahkan dalam menunjukkan kasih sayang. Akan ada hari ketika pasangan sedang lelah dan tidak banyak bicara. Ada perkataan yang mungkin tidak sengaja menyakiti. Ada perbedaan pendapat yang berujung pada kesalahpahaman.
Ada persoalan ekonomi, urusan keluarga, tanggung jawab pekerjaan, serta berbagai ujian kehidupan yang menguras tenaga dan pikiran. Ada pula masa ketika salah satu sedang jatuh, kehilangan semangat, atau tidak mampu memberikan perhatian sebagaimana biasanya. Di saat seperti inilah cinta tidak lagi cukup hanya dirasakan. Cinta harus dipilih dan diperjuangkan. Sebab, mudah mencintai seseorang ketika semuanya menyenangkan. Yang tidak mudah adalah tetap memilihnya ketika keadaan sedang sulit.
Tetap berbicara dengan lembut ketika hati sedang kecewa. Tetap menjaga sikap ketika sedang marah. Tetap menghargai ketika ada perbedaan. Tetap berusaha memahami ketika pasangan belum mampu menjelaskan perasaannya. Mencintai bukan berarti tidak pernah kecewa. Mencintai berarti belajar mengelola kekecewaan agar tidak berubah menjadi kebencian. Mencintai bukan berarti membenarkan semua kesalahan. Mencintai berarti berani mengingatkan dengan cara yang baik, sekaligus bersedia memperbaiki diri ketika melakukan kekeliruan. Dalam pernikahan, setiap orang perlu menyadari bahwa dirinya bukan hanya sedang mencari kebahagiaan, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan kebahagiaan bagi pasangannya.
Jangan hanya bertanya, apakah aku bahagia bersamanya? Sesekali tanyakan juga, sudahkah aku menjadi alasan dia merasa aman, dihargai, dan dicintai? Pertanyaan ini penting. Sebab, rumah tangga tidak akan kokoh jika masing-masing hanya sibuk menuntut hak, tetapi lupa menunaikan kewajiban. Rumah tangga tidak akan hangat jika keduanya ingin dimengerti tetapi enggan memahami.
Pernikahan bukan tentang mendapatkan pasangan sesuai dengan keinginan. Pernikahan adalah tentang belajar menerima seseorang dengan segala kelebihan dan kekurangannya, lalu bersama-sama bertumbuh menjadi lebih baik. Kita tidak menikahi manusia yang sempurna. Kita menikahi seseorang yang juga sedang belajar menjadi hamba Allah yang lebih baik. Karena itu, jangan menjadikan kekurangan pasangan sebagai alasan untuk berhenti menghargainya. Jangan pula menjadikan kesalahan masa lalu sebagai senjata untuk terus melukainya.
Allah Swt. berfirman:
“Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka (maka bersabarlah), karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.”
(QS An-Nisa: 19)
Ayat ini mengingatkan bahwa kehidupan rumah tangga harus dibangun dengan mu’asyarah bil ma’ruf, yaitu memperlakukan pasangan dengan cara yang baik. Ketika muncul sesuatu yang tidak disukai, seorang muslim tetap diperintahkan untuk mempertimbangkan kebaikan yang mungkin belum terlihat.
Tentu, bersabar bukan berarti membiarkan kezaliman atau kekerasan. Rumah tangga harus menjadi tempat yang aman, bukan tempat seseorang kehilangan martabat dan ketenangan. Menghargai perbedaan dan kekurangan, kesabaran, komunikasi, dan sikap saling menghormati merupakan bagian penting dari menjaga keutuhan pernikahan. Maka ketika rasa cinta sedang terasa kuat, syukurilah. Ketika rasa cinta sedang melemah, jangan buru-buru menyerah. Rawat kembali rasa cinta dengan komunikasi yang jujur, hangatkan kembali dengan perhatian sederhana, perbaiki dengan meminta maaf. Kuatkan rasa cinta dengan doa, dan arahkan kembali cinta itu kepada Allah. Sebab, cinta yang hanya bergantung pada perasaan mudah berubah, tetapi cinta yang dibangun di atas iman, tanggung jawab, dan kesadaran untuk mencari ridha Allah akan memiliki kekuatan untuk melewati berbagai ujian.
Rasulullah saw. bersabda:
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah yang paling baik kepada keluargaku.” (HR Tirmidzi)
Hadis ini menunjukkan bahwa ukuran kebaikan seseorang tidak hanya terlihat dari bagaimana ia memperlakukan orang lain di luar rumah, tetapi juga bagaimana ia bersikap kepada keluarganya. Rumah adalah tempat paling dekat untuk menguji kesabaran, kejujuran, kelembutan, dan tanggung jawab. Karena itu, jangan sampai seseorang terlihat begitu ramah kepada orang lain, tetapi justru kasar kepada pasangan sendiri. Jangan sampai perhatian mudah diberikan kepada dunia luar, sementara orang yang setiap hari mendampingi justru merasa diabaikan.
Rumah tangga yang baik bukan rumah tangga tanpa masalah. Rumah tangga yang baik adalah rumah tangga yang ketika masalah datang, keduanya memilih untuk duduk bersama, bukan saling meninggalkan. Keduanya belajar mencari solusi, bukan sekadar mencari siapa yang salah. Keduanya berusaha memperbaiki keadaan, bukan memperbesar luka.
Pada akhirnya, yang membuat pernikahan bertahan bukan hanya rasa cinta. Ada kesetiaan, kesabaran, tanggung jawab, pengertian, komunikasi, dan kemauan untuk terus memilih satu sama lain. Ada kesediaan untuk tumbuh bersama, memaafkan dengan bijaksana, serta menjaga kehormatan pasangan dalam keadaan lapang maupun sempit.
Semoga kita tidak hanya mendapatkan pasangan yang kita cintai, tetapi juga menjadi pasangan yang mampu mencintai, menghargai, menjaga, dan menenangkan hati. Sebab, tujuan pernikahan bukan sekadar hidup bersama, melainkan berjalan berdua menuju sakinah, mawaddah, dan rahmah. Menjadikan rumah sebagai tempat bertumbuh dalam kebaikan, menjadikan cinta sebagai jalan menuju ridha Allah Swt.
Wallahualam bisshawab...

Komentar
Posting Komentar