Mengembalikan Ittiba’ Menuju Kebangkitan Umat Rasulullah saw.


OPINI 


Oleh Windi Permana S.Sos

Pendidik Generasi Ideologis


Tradisi Tahunan Yang Kehilangan Visi


Muslimahkaffahmedia.eu.org-Setiap tahun, gemuruh shalawat dan semarak pawai mewarnai perayaan Maulid Nabi di berbagai penjuru negeri. Umat Islam berbondong-bondong memenuhi majelis taklim, masjid, hingga lapangan terbuka untuk mengekspresikan kecintaan mereka kepada Rasulullah saw.. Namun, di balik hiruk-pikuk ritual dan luapan emosi keagamaan yang membahana, muncul pertanyaan mendasar: seberapa dalam substansi peringatan ini mampu menembus kesadaran kolektif kita? Sering kali, energi spiritual yang luar biasa ini hanya menguap di akhir acara, tanpa meninggalkan bekas perubahan berarti dalam tatanan hidup, seolah-olah perayaan menjadi tujuan akhir, bukan pintu masuk untuk merenungi apa sebenarnya misi besar Sang Rasul.


Fenomena ini semakin terasa janggal ketika kita mencermati bahwa narasi keteladanan (ittiba’) yang disampaikan pada momentum Maulid masih terperangkap pada ranah etika personal, budi pekerti dan akhlak, seperti yang disampaikan pada acara perayaan Maulid Nusantara di kota Tangerang pada tanggal 21-25 Agustus 2026 (tangerangkota.go.id, 25-08-26) 


Pembahasan tentang kejujuran, kesabaran, atau kasih sayang Nabi memang penting, namun sayangnya jarang sekali dihubungkan dengan proyek besar perjuangan beliau: mengubah fondasi masyarakat jahiliyah yang berbasis pada penghambaan kepada dunia (materialisme) dan tirani hawa nafsu (hedonisme dan keserakahan). Akibatnya, keteladanan Nabi direduksi menjadi sekadar tuntunan moral individual yang indah didengar, tetapi kehilangan daya dorongnya sebagai landasan untuk merombak sistem sosial, ekonomi, dan politik yang timpang, padahal beliau diutus justru untuk menyempurnakan akhlak sekaligus menegakkan syariat Allah di muka bumi.


Di sisi lain, memang tidak bisa dimungkiri bahwa geliat kesadaran akan perlunya perubahan mulai tumbuh di kalangan umat saat ini. Ada keinginan kuat untuk keluar dari kesusahan dan kembali pada ajaran Islam yang benar. Akan tetapi, jika kita jujur menilai, arah dan metode yang ditempuh masih sangat jauh dari metode perjuangan Rasulullah saw. yang visioner dan strategis. Perubahan yang diinginkan masih bersifat parsial, reaktif, atau justru terjebak dalam simbol-simbol kekuasaan semu, tanpa perencanaan komprehensif yang mencontoh Nabi saw. dalam membangun peradaban.


Maulid, Kapitalisme dan Hilangnya Kesadaran Ideologis Umat 


Perayaan Maulid Nabi saat ini makin kehilangan esensi fundamentalnya, tereduksi menjadi sekadar seremoni rutin tanpa muatan ideologis yang jelas. Ekspresi kecintaan kepada Rasulullah saw. tidak lagi secara otomatis diiringi dengan pemahaman mendalam tentang risalah dan perjuangan yang beliau bawa. Padahal, cinta sejati kepada Nabi seharusnya berimplikasi pada komitmen untuk meneladani nilai-nilai perjuangan beliau dalam seluruh aspek kehidupan, bukan hanya pada tataran emosional dan ritual tahunan.


Di sisi lain, umat Islam saat ini tampak kehilangan kesadaran kritis bahwa bentuk penghambaan kepada selain Allah telah berlangsung secara sistemik melalui dominasi kapitalisme dan turunannya seperti demokrasi dan liberalisme. Sistem ini secara perlahan telah menggeser orientasi hidup dari nilai-nilai ketuhanan menuju penghambaan pada dunia dan hawa nafsu. Tanpa kesadaran bahwa sistem-sistem tersebut mengandung unsur thaghut yang harus ditolak, umat akan terus terperangkap dalam pola pikir sekuler yang menjauhkan mereka dari tujuan penciptaan yang hakiki.


Di sisi lain, sistem kapitalisme tidak akan tinggal diam, ia akan terus berupaya menghalangi setiap gerakan kebangkitan umat Islam yang menuntut perubahan sistem. Berbagai cara dilakukan, mulai dari hegemoni media, intervensi ekonomi, hingga kriminalisasi terhadap aktivis yang vokal menyuarakan perlawanan. Hal ini menunjukkan bahwa kapitalisme adalah sistem yang tidak hanya eksploitatif secara ekonomi, tetapi juga represif terhadap suara-suara alternatif yang mengancam eksistensinya, termasuk suara kebangkitan Islam yang mengusung visi peradaban yang berbeda.


Membangun Peradaban, Dari Ittiba’ Menuju Tegaknya Islam Kafah


Langkah awal membangun peradaban Islam adalah mengembalikan makna ittiba' kepada hakikatnya, yaitu keterikatan penuh pada syariat dan metode perjuangan Rasulullah saw., bukan sekadar perayaan ritual tahunan. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Ali Imran (3): 31, —“Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang”. Kecintaan kepada Nabi harus dibuktikan dengan mengikuti beliau secara total dalam seluruh aspek kehidupan. Tanpa pemahaman ini, umat Islam akan terus terjebak pada ekspresi emosional yang kosong dari konsekuensi ideologis, padahal ittiba' sejati menuntut kesiapan untuk menjalani konsekuensi dakwah sebagaimana yang beliau jalani.


Dominasi kapitalisme-sekuler di negeri-negeri Muslim menuntut umat Islam untuk tidak sekadar pasif, melainkan aktif memperjuangkan penerapan syariat secara kafah (total) melalui kepemimpinan Islam yang menyeluruh. Sistem buatan manusia yang memisahkan agama dari kehidupan telah terbukti melahirkan ketidakadilan dan keterbelakangan sehingga satu-satunya jalan keluar adalah menghidupkan kembali sistem kepemimpinan Islam (khilafah) sebagai instrumen penerapan hukum Allah. Perjuangan ini bukanlah pilihan, melainkan kewajiban yang mengikuti jejak dakwah Rasulullah saw. di Makkah, di mana beliau memulai dari fondasi akidah sebelum membangun struktur kekuasaan di Madinah.


Metode perjuangan Rasulullah saw. ditempuh melalui tiga tahapan strategis (marhalah) yang harus diikuti secara berurutan: pertama, tatsqif (pembinaan kader dan penguatan ideologi); kedua, tafa'ul ma'al ummah (interaksi dan membangun dukungan publik); dan ketiga, istilamul hukmi (penerimaan kekuasaan untuk menerapkan syariat secara total). Dengan mengikuti metode ini, kehidupan Islam akan tegak kembali dan Islam benar-benar hadir sebagai rahmat bagi seluruh alam, sebagaimana ditegaskan dalam QS. Al-Anbiya (21): 107 — “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam”. Kesuksesan tidak akan datang instan, melainkan melalui proses panjang yang terukur, sesuai dengan sunnatullah dalam perubahan sosial politik yang diinginkan.


Penutup 


Sudah saatnya umat Islam meninggalkan sikap pragmatis dan instan dalam beragama, lalu bersungguh-sungguh mempelajari Islam sebagai sistem kehidupan yang sempurna bukan sekadar ritual ibadah personal yang terlepas dari realitas sosial-politik. Pemahaman yang parsial dan sepotong-sepotong telah membuat umat kehilangan visi besar peradaban dan mudah terombang-ambing oleh arus sistem kufur yang mendominasi. Karena itu, mari kita kaji kembali sirah Nabi saw. secara utuh, pahami metode perjuangannya, dan yakini bahwa Islam adalah solusi bagi seluruh problematika manusia. Hanya dengan menerapkan syariat secara kafah dalam pengaturan kehidupan bernegara dan bermasyarakat, Islam akan benar-benar hadir sebagai rahmat bagi seluruh alam. 


Wallahualam bissawab.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Filisida Maternal, Rapuhnya Ibu dalam Sistem Toxic

Kasus Pagar Laut, Bukti Penguasa Tunduk Kepada Pengusaha

Akhir Jeda Sebuah Keteguhan