Perundungan Pasien BPJS: Benarkah Sistem Ini Membantu?

 


OPINI

Oleh Misriyatik 

Aktivis Peduli Umat


MuslimahKaffahMedia.eu.org, OPINI-Viral di Threads, Bapak Yurizal, pasien BPJS Kesehatan, mengunggah keluhannya karena belum mendapatkan ruang rawat inap meskipun sudah menunggu selama 8 jam. Alih-alih simpati, kolom komentar justru dipenuhi cibiran. Ironisnya, beberapa akun yang diduga milik dokter dan tenaga kesehatan pun ikut melontarkan sindiran. Empati hilang, yang tersisa adalah perundungan. [Kompas.id, 7-8-2026]


Peristiwa ini bukan sekadar soal satu pasien dan satu rumah sakit. Ini cermin retaknya sistem kesehatan kita.


Keterbatasan tempat dan birokrasi, ranjang penuh, rujukan berbelit-belit, dan pernyataan klasik “kuota BPJS hari ini sudah habis”. Dalam sistem seperti ini, wajar jika pasien frustrasi. Namun, yang lebih memprihatinkan adalah tenaga kesehatan pun ikut tertekan. Permasalahan defisit dan keterlambatan klaim membuat banyak rumah sakit mengeluh karena pembayaran dari BPJS terlambat. Akibatnya muncul diskriminasi halus, pasien BPJS dilayani lebih lama, ditempatkan di lorong, atau diberi obat yang berbeda. Padahal Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang SJSN dan UU Kesehatan jelas melarang diskriminasi berdasarkan status kepesertaan.


Ketika Empati Mati  


Yang lebih berbahaya bukan hanya sistemnya, tetapi matinya rasa kemanusiaan kita. Hal semacam ini tidak datang begitu saja. Ia datang akibat kelelahan dan burnout kolektif. Semua serba dikejar target, kerja, dan gaya hidup. Otak kita otomatis memasang mode bertahan, yakni “cuek saja”. Media sosial menjadi mesin perbandingan dan mesin penghakiman. Kita terlalu mudah membandingkan hidup dan menjadi hakim bagi penderitaan orang lain. Merasa paling benar, paling bijak, atau paling menderita.


Budaya individualis dan semboyan “urus diri sendiri” membuat kita mengabaikan luka sesama. Setiap hari kita disuguhkan berbagai macam informasi. Lama-kelamaan otak memilih shutdown agar tidak depresi. Inilah yang disebut compassion fatigue atau kelelahan berempati. Kita kehilangan teladan. Dulu kita diajarkan menyayangi sesama, kini panutan publik lebih banyak flexing, menyindir, dan mencari viral. Empati tidak pernah trending.


BPJS dan rumah sakit gagal mengelola ekspektasi. Pasien dan keluarga tidak pernah diedukasi dengan jelas tentang, berapa lama estimasi waktu tunggu, apa prosedurnya, dan apa alternatifnya. Ketidaktahuan melahirkan amarah, selanjutnya amarah melahirkan komentar jahat.


Dampaknya


Kepercayaan publik runtuh. Orang mulai takut menggunakan BPJS. Tenaga kesehatan dan pasien yang seharusnya saling menolong justru saling curiga dan saling menyalahkan. Tujuan negara terbukti gagal. Kesehatan yang seharusnya meringankan beban rakyat justru membuat pasien diabaikan bahkan dipermalukan.


Lebih jauh lagi, kesehatan perlahan bergeser dari kebutuhan dasar menjadi lahan bisnis. Fasilitas dan kecepatan pelayanan sangat bergantung pada kemampuan membayar. Pasien dijadikan objek, bukan subjek yang harus dilindungi.


Komentar-komentar yang mencibir pasien BPJS, bahkan dari sebagian tenaga kesehatan, adalah bentuk nyata dari sikap tidak empati. Dalam Islam sikap demikian ini disebut cacat syakhsiyah Islamiyah atau kepribadian Islam.


Bapak Yurizal bukan satu-satunya korban. Di luar sana masih banyak cerita serupa, hanya saja tidak viral, seperti kasus diminta antre paling belakang padahal datang lebih awal, dilayani dengan nada merendahkan: “BPJS, ya? Sabar, ya, nunggunya lama”, dipulangkan dengan sindiran: “Kalau tidak ada BPJS, jangan sakit-sakitan”, dan tidak dilayani karena status kepesertaan menunggak.


Tidak ada manusia yang ingin sakit. Sistem saat ini telah terbukti gagal melindungi rakyat dan gagal menjaga adab. Kepribadian yang cacat dan minim empati ini lahir dari sistem pendidikan sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan dan pola hidup yang jauh dari nilai Islam.


Dalam Islam, kesehatan adalah hak dasar setiap individu yang wajib dijamin negara. Pembiayaannya berasal dari Baitulmal yang bersumber dari pengelolaan harta milik umum. Negara berperan sebagai rā’in, pengurus dan pelindung rakyat.


Islam mendahulukan pencegahan daripada pengobatan. Rasulullah saw. bersabda: 

“Berobatlah, karena Allah tidak menurunkan penyakit kecuali Dia juga menurunkan obatnya.” [HR Bukhari]


Islam mendorong tiga hal, yaitu: 

1.  Menjaga kebersihan, karena kebersihan sebagian dari iman. 

2.  Menjaga makanan, dengan makan makanan yang halal dan baik. 

3.  Menjaga lingkungan, sebab lingkungan akan memberikan pengaruh terhadap perbuatan seseorang.


Negara Khilafah wajib menjamin pelayanan kesehatan gratis bagi seluruh rakyat tanpa melihat apakah ia orang kaya ataukah miskin. Melakukan pengawasan ketat terhadap makanan, obat, dan pelayanan kesehatan. Memperhatikan kesejahteraan tenaga kesehatan agar mereka dapat bekerja dengan ihsan, bukan dengan terpaksa.


Etikanya jelas, yakni dokter adalah thabib, pekerja mulia. Pasien wajib jujur, dokter wajib jujur, dan tidak boleh membeda-bedakan kaya dan miskin.


Cara Islam Mengatasi Perundungan

 

Dimulai dengan pendidikan akidah dan akhlak sejak dini. Menanamkan keyakinan bahwa setiap perbuatan akan mendapatkan balasan kelak di akhirat, sehingga akan lebih berhati-hati dalam melakukan tindakan. Menanamkan rasa saling menyayangi dengan sesama makhluk ciptaan Tuhan. Adanya sanksi hukum dan sosial. Hukuman dalam Islam memberikan efek jera dan pencegahan agar tidak ada yang berani merendahkan kehormatan orang lain. Membiasakan budaya tabayun, mengecek kebenaran informasi sebelum menghakimi.  Sebagaimana firman Allah Swt. dalam QS Al-Hujurat ayat 6 yang artinya,“Jika datang orang fasik membawa berita, maka periksalah.” Serta menguatkan ukhuwah dan menanamkan sikap ihsan, berbuat baik seolah-olah melihat Allah. Jika tidak mampu, yakinlah Allah Maha Melihat.


Penutup


Islam tidak memisahkan antara sistem dan hati. Kesehatan dijamin oleh negara dan dijalankan oleh tenaga kesehatan dengan penuh kasih sayang. Perundungan dicegah dengan hukum dan diberantas dari akarnya dengan iman dan empati.  

Yakinlah, empati tidak benar-benar hilang dari kita. Ia hanya tertutup oleh lelah, oleh sistem, dan oleh hiruk pikuk dunia. PR kita bukan menjadi pahlawan. Cukup mulai dengan peduli.

Wallahualam bissawab

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Filisida Maternal, Rapuhnya Ibu dalam Sistem Toxic

Kasus Pagar Laut, Bukti Penguasa Tunduk Kepada Pengusaha

Akhir Jeda Sebuah Keteguhan