Tangis Anak Gaza dan Bisunya Penguasa Negeri Muslim


OPINI


Oleh Ummu Himmah

Owner StoryKU


Muslimahkaffahmedia.eu.org-Ibarat tanaman yang belum tumbuh daun sudah dicabut akarnya. Demikianlah nasib anak-anak Palestina. Kehadiran mereka dinanti untuk menjadi penerus keluarga dan perjuangan kemerdekaan. Namun bagi Zionis Israel, keberadaan mereka dianggap berbahaya. Karena itu sejak lama ada upaya sistematis untuk menghentikan lahirnya generasi pembebas Al-Quds. Semakin hari upaya itu semakin intens. Sebab penjajah tidak ingin malamnya segera berganti pagi. Mereka tidak ingin kekuasaannya berakhir karena lahirnya generasi pembebas.


Dilansir dari Kompas.com [28/8/2026], Palestinian Center for Prisoners’ Advocacy melaporkan sekitar 370 anak Palestina saat ini ditahan di penjara-penjara Israel. Sebagian besar berada di Penjara Megiddo dan Ofer, sebagaimana diberitakan Anadolu via Antara. Anak-anak itu merupakan bagian dari lebih dari 9.400 tahanan dan narapidana Palestina yang ditahan Israel hingga awal Agustus.


Sungguh miris. Anak-anak yang seharusnya dilindungi justru dilibatkan dalam lingkaran peperangan. Dengan penangkapan dan pemenjaraan, masa depan mereka dirusak. Mereka dijauhkan dari akses pendidikan yang layak, layanan kesehatan, bahkan dikhawatirkan mengalami pencucian otak oleh Zionis Israel. 


Ini bukan tanpa alasan. Zionis Israel tahu betul, jika anak-anak itu dibiarkan tumbuh bebas, merekalah yang kelak akan menjadi penentang penjajahan. Ini adalah upaya sistemik untuk membendung perlawanan terhadap pendudukan Zionis atas Palestina.


Padahal Konvensi Jenewa menegaskan bahwa anak dan perempuan harus dilindungi. Anak dipandang sebagai kelompok paling rentan karena belum mampu melindungi diri sendiri. Pihak yang bertikai wajib memastikan anak tetap mendapat akses pendidikan, makanan, dan perawatan medis meskipun di tengah perang. Hukum perang melarang pengubahan status sipil atau kewarganegaraan anak secara paksa. Militer juga dilarang memisahkan anak dari orang tuanya dan wajib memfasilitasi reuni keluarga jika terpisah. Jika suatu wilayah harus dievakuasi, anak-anak harus diprioritaskan untuk dipindahkan ke zona aman dan didampingi penanggung jawabnya.


Faktanya, anak-anak Palestina justru kehilangan hak hidupnya. Inilah kejahatan kemanusiaan terbesar abad ini, upaya sistematis penghancuran dan pelenyapan satu generasi.


Yang lebih menyakitkan adalah kebisuan para penguasa negeri-negeri Muslim. Bahkan yang letaknya paling dekat dengan Palestina pun diam. Tidak ada pembelaan nyata atas tragedi yang menimpa anak-anak ini. Tidak ada upaya diplomatik serius untuk mengeluarkan mereka dari penjara-penjara Israel. Mediasi tidak ada. Kecaman tegas pun absen.


Bukankah Rasulullah saw. bersabda: “Al-Muslimu akhul Muslim” , artinya sesama Muslim itu bersaudara. Jika benar kita bersaudara, seharusnya ada kesadaran penuh untuk menjadikan masalah Palestina sebagai masalah bersama yang harus diselesaikan bersama. Para penguasa negeri Muslim semestinya mendorong pembebasan anak-anak Palestina, bahkan jika perlu dengan mengirim pasukan terbaiknya. 


Tidak perlu gentar terhadap makar Zionis yang menjadikan anak-anak sebagai alat intimidasi terhadap para pejuang Islam di Palestina dan kaum Muslimin yang mendukung pembebasan Palestina.


Upaya pembebasan Palestina sudah berlangsung lama, namun belum membuahkan hasil nyata. Gencatan senjata hanya menjadi jeda sementara untuk kemudian dilanjutkan lagi agresinya. Bahkan saat gencatan senjata, Zionis dengan angkuhnya tetap membunuh warga sipil Palestina. Perundingan yang difasilitasi PBB juga tidak menghentikan serangan. Tabiat mereka memang licik dan bebal. Bahasa yang mereka pahami hanyalah senjata dan perang. 


Maka hanya ada satu jalan untuk pembebasan Palestina yakni jihad fi sabilillah di bawah komando seorang Khalifah sebagai pemimpin dan panglima tertinggi Khilafah.


Akar masalah Palestina bermula sejak tiadanya Khilafah pada 1924. Sejak saat itu dunia berada dalam cengkeraman kapitalisme. Dunia tidak lagi damai. Kerusakan terjadi di mana-mana, termasuk genosida di Palestina sebagai bagian dari pengokohan neoimperialisme.


Karena itu umat harus sadar. Untuk mengakhiri masalah Palestina, Palestina harus kembali berada dalam pangkuan Khilafah. Khilafah sebagai negara yang berasaskan Islam akan menerapkan syariat secara menyeluruh, termasuk melindungi kaum Muslimin dan menjaga akidah mereka dari kaum kafir. Khilafah akan menjaga kehormatan Islam dan kaum Muslimin. Bahkan dalam perang pun akan tetap melindungi perempuan, anak-anak, dan orang tua yang lemah. 


Sebagaimana sejarah Fathu Makkah. Saat Makkah ditaklukkan, penduduk yang tidak ikut berperang dijamin keamanannya, termasuk perempuan dan anak-anak dari kaum musyrik Quraisy. Prinsip ini kemudian diteruskan oleh para sahabat. Saat melepas pasukan ekspedisi ke Syam yang dipimpin oleh Yazid bin Abi Sufyan, Khalifah Abu Bakar memberikan 10 pesan penting, yang di antaranya berbunyi:"Janganlah kamu membunuh wanita, anak-anak, ataupun orang tua yang sudah sepuh. Janganlah kamu menebang pohon yang berbuah, jangan menghancurkan bangunan, dan jangan menyembelih kambing atau unta kecuali untuk dimakan." (Diriwayatkan dalam Kitab Al-Muwatta oleh Imam Malik). Semua dilakukan karena mereka tau bahwa sejatinya perang itu untuk membela diri dan menghilangkan pembatas fisik sehingga tetap akan melindungi yang wanita lemah, anak-anak juga orangtua renta bukan kombatan. 


Sudah saatnya tangis anak Gaza tidak lagi dijawab dengan diam. Sudah saatnya umat dan para penguasa Muslim memilih, berpihak pada keadilan atau terus membiarkan penjajahan.


Wallahualam bissawab

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Filisida Maternal, Rapuhnya Ibu dalam Sistem Toxic

Kasus Pagar Laut, Bukti Penguasa Tunduk Kepada Pengusaha

Akhir Jeda Sebuah Keteguhan