Bullying, Sekulerisme dan Krisis Moral Generasi
OPINI
Oleh Windi Permana Sari S.Sos
Pendidik Generasi Ideologis
MuslimahKaffahMedia.eu.org, OPINI-Data terbaru dari PISA (Programme for International Student Assessment) 2025 menunjukkan 24 persen siswa di Indonesia mengalami perundungan beberapa kali dalam sebulan (detik.com, 09/09/26).
Angka ini lebih tinggi dibandingkan rata-rata dari 38 negara yang tergabung dalam OECD (Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi) yakni 20 persen. Artinya, hampir satu dari empat pelajar di negeri ini tidak merasa aman di lingkungan sekolahnya. Fakta ini seharusnya menjadi alarm serius bagi kita semua, karena sekolah yang seharusnya menjadi tempat menimba ilmu justru berubah menjadi ruang yang menakutkan bagi sebagian anak.
Jika dirinci, bentuk perundungan yang paling banyak adalah siswa dijadikan bahan lelucon yakni mencapai 15,2 persen. Setelah itu, 11,6 persen siswa menjadi korban rumor buruk, 7 persen mengalami perundungan siber, 5,6 persen dipukul atau didorong, dan 3,2 persen mendapat ancaman. Deretan angka ini memperlihatkan bahwa bullying tidak hanya soal kekerasan fisik, tetapi juga serangan verbal dan digital yang sama-sama melukai. Saatnya kita berhenti menganggap perundungan sebagai kenakalan biasa dan mulai mengambil tindakan nyata untuk melindungi anak-anak kita.
Sekularisme-Kapitalisme: Akar Suburnya Perundungan di Indonesia
Sekularisme yang menjauhkan individu dan keluarga dari Islam membuat anak-anak tumbuh tanpa benteng keimanan yang kokoh. Ketika nilai-nilai agama tidak lagi menjadi landasan dalam kehidupan sehari-hari, maka tidak ada lagi rambu-rambu yang dapat mencegah seseorang dari berbuat zalim. Iman yang seharusnya menjadi pengingat bahwa menyakiti orang lain adalah dosa, perlahan kehilangan perannya. Akibatnya, seorang anak bisa tumbuh tanpa rasa takut kepada Allah, sehingga tidak ada penghalang yang menahannya ketika ingin menindas temannya sendiri. Lebih jauh, masyarakat yang dibentuk oleh sistem sekuler-kapitalis cenderung bersikap permisif, individualistik, dan acuh tak acuh terhadap lingkungan sekitarnya.
Perundungan pun menjadi hal yang dinormalisasi. Orang-orang merasa bahwa itu "bukan urusan saya" atau berprinsip "yang penting bukan saya dan keluarga saya.'' Sikap masa bodoh seperti ini membuat korban bullying semakin terjepit, sementara pelaku merasa bebas karena tidak ada tekanan sosial yang menuntut pertanggungjawaban atas perbuatan buruknya. Solidaritas yang seharusnya menjadi perekat masyarakat justru tergerus oleh pola pikir egois yang menempatkan kepentingan pribadi di atas segalanya.
Negara yang menganut sekularisme-kapitalisme juga melahirkan sistem pendidikan sekuler, yang tidak dirancang untuk membentuk generasi berkepribadian mulia dan beriman. Pendidikan hanya berorientasi pada pencapaian materi dan angka, bukan pada pembinaan akhlak dan ketakwaan. Yang lebih memprihatinkan, tidak ada sanksi tegas bagi pelaku bullying. Bahkan, pelaku yang masih di bawah 17 tahun justru dilindungi oleh aturan hukum. Hukum yang seharusnya menjadi alat untuk menimbulkan efek jera malah berbalik menjadi tameng bagi para penindas. Kondisi ini menegaskan bahwa tanpa landasan iman dan sistem yang berpihak pada keadilan, perundungan akan terus tumbuh subur di tengah masyarakat.
Islam sebagai Fondasi Kehidupan: dari Individu hingga Negara
Islam menempatkan akidah sebagai fondasi utama dalam membentuk kepribadian seorang muslim. Sejak dini, anak dibimbing untuk mengenal Allah dan menjadikan agama sebagai pegangan hidup. Dalam sistem pendidikan Islam ditegaskan bahwa tanggung jawab membina akidah dimulai dari keluarga. Ketika akidah tertanam kuat, taqwa akan menjadi kendali dalam setiap perilaku. Inilah yang menjadikan individu dan keluarga muslim kokoh dalam menghadapi tantangan zaman, karena prinsip hidup mereka berlandaskan nilai kebenaran yang tidak mudah goyah.
Lebih luas lagi, Islam membangun masyarakat yang peduli dan bertanggung jawab melalui prinsip amar ma’ruf nahi munkar. Allah berfirman:
"Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran: 104)
Masyarakat yang sehat bukanlah yang menutup mata terhadap kemungkaran, melainkan yang aktif mencegah kedzaliman. Dengan adanya kontrol moral bersama, akan tercipta lingkungan sosial yang aman, penuh solidaritas, dan saling menjaga. Masyarakat Islam tidak menutup mata terhadap kedzaliman, juga tidak abai terhadap kebutuhan sesama. Pada level negara, sistem Khilafah hadir sebagai pelindung generasi. Rasulullah saw. bersabda:
"Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Pendidikan berbasis akidah yang diiringi dengan penerapan uqubat (sanksi), sebagai zawajir (pencegah) dan zawabir (penebus dosa) menjadi pondasi utama dalam mencegah setiap pelanggaran, termasuk kasus bullying. Tidak ada area abu-abu dalam hukum Islam. Pada usia taklif setiap muslim yang telah baligh bertanggung jawab atas perbuatannya. Dengan demikian, sistem Islam bukan hanya membentuk individu beriman, tetapi juga masyarakat yang peduli dan negara yang tegas menjaga amanah perlindungan serta martabat seluruh manusia.
Penutup
Jelas, bahwa maraknya perundungan di sekolah-sekolah Indonesia tidak bisa dilepaskan dari rapuhnya sistem sekular-kapitalistik yang menjauhkan manusia dari nilai-nilai Islam. Tanpa akidah yang kokoh, masyarakat kehilangan kontrol moral. Negara pun gagal memberikan perlindungan serta sanksi tegas yang menimbulkan efek jera. Karena itu, solusi sejati bukan sekadar kampanye atau aturan administratif yang cuma sekedar formalitas, melainkan dengan kembali mempelajari dan memahami Islam secara menyeluruh.
Islam bukan hanya agama yang mengatur ibadah ritual, tetapi merupakan sistem kehidupan yang lengkap --membentuk individu bertakwa --masyarakat peduli --negara yang bertanggungjawab --serta tegas menjaga keadilan. Dengan menjadikan Islam sebagai landasan hidup, kita akan menemukan jalan yang benar untuk membangun generasi yang beriman, beradab, dan bermartabat yang akan memimpin peradaban dunia.
Wallahualam bissawab

Komentar
Posting Komentar