Karhutla Berdampak Hilangnya Nyawa, Pejabat Bilang Masih Normal Saja


OPINI


Oleh Luluk Kiftiyah

Pegiat Literasi


Muslimahkaffahmedia.eu.org-Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hingga kini sudah berjalan lebih dari empat bulan. Karhutla menyebabkan dampak buruk pada kesehatan bahkan berisiko hilangnya nyawa. Salah satunya adalah meninggalnya pengemudi ojek online atas nama Ardiansyah (41), warga Jalan Mataram Ujung, Kelurahan Kemas Rindo, Kecamatan Kertapati, Palembang. Almarhum Ardiansyah meninggal diduga mengalami sesak napas setelah terdampak paparan asap karhutla, dengan riwayat asma. Karhutla yang tak kunjung padam ini juga mengancam pemukiman warga Balikpapan, tepatnya kawasan hutan kota di Gunung Malang, RT 39, Kelurahan Klandasan Ilir. Para relawan pemadam karhutla berusaha memadamkan api yang berkobar, dibantu beberapa warga setempat agar api tidak menjalar ke permukiman (kaltimpos.com, 18/10/2026).


Dampak karhutla ini menyebabkan penderita infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) meningkat. Kementerian Kesehatan mencatat sebanyak 277.075 kasus ISPA di 63 kabupaten/kota pada tujuh provinsi terdampak, dan angka ini akan terus bertambah mengingat penanganan pemerintah terhadap karhutla yang lamban. Penanganan yang lamban ini menambah daftar panjang penderita ISPA. Terutama kelompok yang paling rentan terpapar adalah bayi, ibu hamil, balita, lansia, dan penderita paru kronis. Sementara itu, tidak semua rumah sakit sanggup menerima pasien ISPA karena jumlahnya yang membeludak.


Di sisi lain, pemerintah belum mau menetapkan karhutla sebagai bencana nasional meskipun hingga kini sudah memakan banyak korban jiwa. Bahkan, yang membuat miris, beberapa pejabat menyikapi karhutla ini seolah tanpa rasa empati. Di tengah kesusahan rakyat akibat karhutla, Gubernur Kalimantan Tengah, Agustiar Sabran, mengatakan bahwa karhutla ini belum layak dijadikan bencana nasional karena masyarakat masih bisa beraktivitas normal, ekonomi belum terlalu terdampak, dan belum ada korban jiwa.


Tentu sangat disayangkan ketika pernyataan seperti itu keluar dari mulut seorang gubernur. Orang yang seharusnya melakukan riayah atau mengurusi urusan rakyat dan memastikan rakyatnya hidup dengan aman serta nyaman, justru mengeluarkan pernyataan yang menyakiti hati rakyat. Di tengah kepulan asap beracun, ia berkata bahwa masyarakat masih bisa beraktivitas normal. Padahal kenyataannya terjadi lonjakan ISPA, ada korban jiwa, bahkan beberapa kasus kematian anak-anak dan balita karena sesak napas akibat partikel halus PM2.5 dari kabut asap.


Dari kasus tersebut, sudah seharusnya seorang pemimpin mengayomi dan melindungi rakyatnya tanpa harus menunggu adanya korban jiwa. Apalagi karhutla ini sudah berjalan lebih dari empat bulan. Jangankan lebih dari empat bulan, sehari saja seharusnya para pejabat negara dengan sigap segera memadamkan kobaran api dan tidak membiarkan rakyat menghirup asap beracun. Tanpa harus menunggu rakyat menjadi mayat terlebih dahulu baru ditetapkan sebagai bencana nasional. Para pejabat bukan orang yang buta dan tuli, tetapi bisa melihat fakta di lapangan bahwa karhutla ini mengancam kelangsungan hidup masyarakat.


Pernyataan serupa juga dilontarkan oleh sekelas presiden yang solusinya terkesan lucu-lucuan. Bagaimana mungkin hutan dan lahan yang terbakar seluas ratusan hektare, tetapi memberikan solusi memadamkan api dengan tepung. Hutan dan lahan yang terbakar bukan satu atau dua meter lagi, melainkan sudah ratusan hektare. Karhutla ini juga sudah menyerang paru-paru masyarakat di daerah terdampak, sehingga solusi tersebut sangat tidak relevan.


Memang tidak dimungkiri, ada upaya yang dilakukan pemerintah, baik gabungan pemerintah dengan kepolisian maupun dengan tentara. Hanya saja, jika dibandingkan dengan seberapa besar kebakaran itu terjadi dan menyebar sampai ratusan ribu hektare, sementara alat yang digunakan masih tergolong manual, hal itu menunjukkan bahwa pemerintah tidak serius menyelesaikan kasus karhutla ini.


Seharusnya dengan luasnya wilayah yang terbakar, pemerintah menggunakan alat yang lebih canggih, entah itu helikopter water bombing yang kapasitasnya 6.000 liter atau yang 1.200 liter, bukan mengandalkan lagi selang yang diseret-seret oleh relawan.


Dilihat dari cara pemerintah menyikapi dan menyelesaikan masalah karhutla ini, dapat disimpulkan bahwa seperti inilah sistem kapitalis sekuler memperlakukan rakyat. Rakyat bukan tujuan dalam menjalankan amanah mereka, melainkan sebagai wasilah untuk memperkaya diri sendiri. Sistem kapitalis sekuler ini membuat para pemimpin negeri hilang empati. Mereka yang mempunyai jabatan, yang seharusnya digunakan untuk meriayah rakyat, tidak digunakan sebagaimana mestinya. Rakyat dibiarkan menghirup asap beracun berbulan-bulan dan berjuang hidup sehat secara mandiri.


Sedangkan solusi yang ditawarkan dalam sistem kapitalis sekuler ini sama sekali tidak menyentuh akar masalahnya. Ibarat jika ada genting yang bocor, hanya memberikan wadah untuk menampung airnya, bukan membenahi gentingnya. Seperti inilah solusi yang disuguhkan oleh sistem kapitalis sekuler, sebatas memberikan arahan untuk memakai masker atau berobat ke puskesmas jika sudah merasakan sesak, serta mengurangi aktivitas di luar rumah.


Dari sini, sangat disesalkan ketidakseriusan penanganan pemerintah terhadap karhutla sehingga menimbulkan penderitaan rakyat yang berkepanjangan. Nyawa rakyat tidak dianggap penting dan hanya dijadikan objek untuk memuluskan kerakusan segelintir orang. Padahal Rasulullah saw. bersabda,


Ala kullukum ra'in wa kullukum mas'ulun 'an ra'iyyatihi...


"Ketahuilah, setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya. Imam atau kepala negara adalah pemimpin bagi manusia dan akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka... ." (HR. Bukhari dan Muslim)


Jika pemerintah serius sejak awal, tentu sudah mengambil sikap cepat tanggap, seperti mengerahkan helikopter water bombing, bukan menunggu berbulan-bulan baru mengerahkan. Apalagi, mengingat karhutla ini terjadi setiap tahun. Seharusnya pemerintah belajar dari pengalaman untuk mengantisipasi agar tidak terulang kembali.


Namun sayangnya, rakyat tidak bisa berharap banyak pada sistem kapitalis sekuler ini. Kasus karhutla ini bukan kasus baru, bahkan sudah menjadi langganan isu setiap tahun. Mengapa? Karena di balik karhutla ada kekuatan yang bermain demi mendapatkan cuan. Mereka tidak peduli harus mengorbankan berapa banyak orang, yang terpikirkan hanyalah keuntungan. Hal ini diperkuat dengan ditemukannya tumbuhnya pohon sawit di bekas lahan yang terbakar. Tidak mungkin di bekas tanah yang terbakar tiba-tiba tumbuh pohon sawit tanpa ada yang menanamnya. Dari sini benang merah itu terurai.


Islam Menangani Karhutla


Islam adalah agama yang adil, termasuk dalam menjaga keamanan dan melayani kesehatan. Ketika terjadi kasus karhutla, Islam akan mengusut tuntas dan memberikan sanksi yang tegas kepada pelaku. Sanksi ini bertujuan untuk memberikan efek jera (zawajir) dan penebus dosa (jawabir).


Zawajir memberikan rasa takut atau ngeri kepada masyarakat agar mengurungkan niat untuk berbuat maksiat atau kriminal. Sanksi ini dapat menciptakan ketertiban umum dan melindungi lima pokok kemaslahatan (maqasid syariah), yaitu agama, jiwa, akal, kehormatan atau keturunan, dan harta. Sedangkan jawabir dapat menghapus dosa dan kesalahan pelaku di hadapan Allah Swt. atas tindak pidana yang telah diperbuat, sehingga menghindarkan pelaku dari siksa neraka kelak.


Dengan sistem Islam kafah ini, khalifah tidak akan pandang bulu, apakah ia pejabat atau bukan, ia akan menegakkan hukum dengan seadil-adilnya. Inilah kebaikan yang akan didapat apabila sistem Islam kafah diterapkan. Kebijakan dibuat untuk kepentingan rakyat, bukan kepentingan individu ataupun golongan, sehingga tidak ada ruang penjajahan kapitalis sekulerisme. Sebab Islam akan menutup kemungkinan sekecil apa pun.


Pemimpin yang dipilih adalah pemimpin yang bertakwa, pemimpin yang memahami bahwa jabatan adalah amanah. Amanah yang kelak di akhirat akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt. Oleh karena itu, harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.


Atas dasar inilah seorang khalifah sangat berhati-hati dalam memutuskan dan membuat kebijakan. Ia memosisikan dirinya sebagai pelayan yang harus melayani rakyatnya. Sehingga begitu ada kasus karhutla, akan segera diusut siapa pelakunya dan memberikan sanksi tegas. Selain itu, dengan serius segera memadamkan karhutla tanpa menunggu nanti agar tidak berlarut-larut bahkan berbulan-bulan.


Namun, semua ini akan terwujud hanya dengan perubahan hakiki pada asas dan sistem kehidupan, dari sekularisme ke akidah Islam, dari kapitalisme ke ideologi Islam. Jadi, perlu diperbaiki dari akarnya atau asas, maka aturan dan sistem akan berubah. Dengan begitu, kesejahteraan dan kenyamanan akan terwujud ketika Islam dijadikan mabda atau ideologi dan sistem kehidupan, serta diterapkan secara kafah dalam seluruh aspek kehidupan. Sebagaimana Allah Swt. berfirman,


Ya ayyuhallazina amanu udkhulu fis-silmi kaffah wa la tattabi'u khutuwatisy-syaithan innahu lakum 'aduwwum mubin


"Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu." (QS. Al-Baqarah : 208)[2]


Wallahualam bissawab.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Akhir Jeda Sebuah Keteguhan

Filisida Maternal, Rapuhnya Ibu dalam Sistem Toxic

Kasus Pagar Laut, Bukti Penguasa Tunduk Kepada Pengusaha