Kecanggihan AI: antara Peluang dan Ancaman OPINI



 OPINI

Oleh Hanin Nafisah

Aktivis Muslimah


MuslimahKaffahMedia.eu.org, OPINI-Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence kini sudah melekat dalam keseharian kita. Mulai dari asisten virtual di ponsel, layanan chatbot, hingga kemampuan membuat ilustrasi, musik, sampai menulis artikel. Tak jarang pelajar pun memanfaatkannya untuk membantu menyelesaikan tugas sekolah. Jelas, AI menawarkan kemudahan yang luar biasa.


Namun di balik itu, ada sinyal bahaya yang mulai disuarakan para pakarnya sendiri. Baru-baru ini, 22 peneliti AI terkemuka merilis sebuah kajian berjudul "Bagaimana jika otomatisasi R&D AI memicu ledakan kecerdasan?". Di antara penulisnya ada Yoshua Bengio dan Geoffrey Hinton yang dijuluki Bapak AI modern, bersama Jack Clark dari Anthropic dan Jakub Pachocki dari OpenAI. Mereka meminta pemerintah dunia untuk segera bersiap menghadapi potensi "intelligence explosion". 


Yang dimaksud ledakan kecerdasan adalah kondisi di mana kemajuan AI melesat sangat cepat karena AI itu sendiri yang melakukan riset dan pengembangannya secara otomatis, atau yang disebut recursive self-improvement (RSI). Dalam skenario tersebut, satu perusahaan AI bisa memiliki kekuatan riset setara jutaan ilmuwan terbaik. Para peneliti menyebut ini bisa menjadi lompatan teknologi paling signifikan dalam sejarah, di mana kemajuan bertahun-tahun bisa terkompresi hanya dalam hitungan bulan. Dampaknya, kontrol manusia atas sistem AI bisa lepas, dan keseimbangan kekuasaan antar negara, korporasi, bahkan antar cabang pemerintahan bisa terkikis. [Cnnindonesia.com, 30/09/2026].


Dua Sisi Mata Pisau


Istilah Artificial Intelligence pertama kali diperkenalkan pada Konferensi Dartmouth tahun 1956. Perjalanannya dapat dipetakan dalam empat fase besar: fase perumusan teori di awal 1900-an, fase pertama tahun 1930-an dengan gagasan membekali mesin dengan pengetahuan, fase kedua tahun 1950-an ketika mesin mulai mampu mengolah data input, dan fase ketiga tahun 2000-an seiring lahirnya internet yang membuat AI makin canggih.


Tidak bisa dimungkiri, AI memberi kontribusi positif di sektor pendidikan, kesehatan, dan industri teknologi. Namun di sisi lain, risiko yang dibawanya juga nyata, seperti ancaman di bidang biologi dan keamanan siber, hilangnya peran dan kendali manusia, hingga potensi memicu konflik antar negara. Karena itu, AI sering diibaratkan pisau bermata dua.


Kondisi ini tidak lepas dari ideologi yang mengarahkan teknologi saat ini, yakni kapitalisme sekuler. Paradigma sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan menjadi asas pengembangannya. Ketika ledakan kecerdasan AI berjalan tanpa rambu-rambu agama dan syariat, yang terjadi justru kerusakan tatanan hidup manusia.


Bahkan di bawah kendali sekuler, teknologi digital telah dipakai sebagai instrumen ghazwul fikri atau perang pemikiran untuk melemahkan Islam. Konten keagamaan yang dihasilkan AI kerap disaring dan dijinakkan agar selaras dengan kepentingan kapitalisme global. Jawaban tentang Islam diarahkan pada versi moderat dan ramah versi penguasa. Sementara ajaran-ajaran Islam yang dianggap menantang hegemoni Barat, seperti konsep Khilafah dan jihad, justru dilemahkan dan dihapus secara sistematis.


Bagaimana Islam Memandang Teknologi AI


Pada dasarnya Allah Swt. telah memuliakan manusia dengan akal untuk merenungi tanda kekuasaan-Nya dan menjalankan peran sebagai khalifah fil ardh. Dengan akal inilah manusia mampu membedakan hak dan batil, memahami ilmu, melahirkan pemikiran, dan mengamalkan ilmunya demi kemaslahatan umat.


Dalam perspektif Islam, hasil pemikiran manusia dapat dikategorikan menjadi hadharah dan madaniyah. Sebagaimana dijelaskan Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani dalam kitab Nizhamul Islam, hadharah adalah sekumpulan pandangan hidup tertentu tentang kehidupan, sedangkan madaniyah adalah wujud fisik benda-benda yang dapat diindra dan dipakai dalam aktivitas harian. Hadharah bersifat khas terkait ideologi, sementara madaniyah ada yang bersifat khas dan ada yang bersifat universal.


Madaniyah yang khas contohnya patung yang lahir dari pandangan hidup tertentu. Sedangkan madaniyah yang universal contohnya produk sains dan teknologi industri yang dapat dimanfaatkan siapa saja.


AI termasuk dalam kategori madaniyah yang bersifat umum, sebagai hasil kemajuan teknologi. Sifatnya netral, namun dampaknya bergantung siapa yang menguasainya. Jika berada di tangan Barat, potensinya bisa menimbulkan kerusakan. Namun jika dikelola oleh umat Islam, AI bisa menjadi sarana untuk mewujudkan kemaslahatan luas.


Oleh karena itu, agar teknologi membawa kebaikan, seluruh aspek kehidupan termasuk teknologi harus diatur dengan syariat Islam secara kaffah. Allah Swt. berfirman dalam QS. Al-Baqarah: 208, "Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kalian ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu."


Dalam sistem Islam, teknologi termasuk AI akan diarahkan untuk menyejahterakan dan memudahkan urusan manusia. Hal ini pernah terbukti pada masa kejayaan Khilafah, ketika negara mampu mengoptimalkan sumber daya alam dan potensi para ilmuwan untuk melahirkan teknologi maju demi kemandirian umat.


Penutup


Manusia mengemban amanah untuk memakmurkan bumi dan telah dibekali berbagai potensi oleh Allah SWT. Umat Islam memiliki tanggung jawab besar dalam hal ini, termasuk dalam mengendalikan arah pengembangan teknologi canggih agar tetap menjamin keselamatan dan kemaslahatan bersama. Hal tersebut hanya akan terwujud sempurna ketika umat memiliki institusi pelaksana syariat dan pemersatu, yaitu Khilafah Islam. Wallahualam bissawab.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Filisida Maternal, Rapuhnya Ibu dalam Sistem Toxic

Akhir Jeda Sebuah Keteguhan

Kasus Pagar Laut, Bukti Penguasa Tunduk Kepada Pengusaha