Keracunan MBG: Ketika Urusan Perut Rakyat Dijadikan Ladang Cuan
OPINI
Oleh Ermawati
Pegiat Literasi
Muslimahkkaffahmedia.eu org,-Program MBG (Makan Bergizi Gratis) kembali menuai korban. Ratusan anak santri di pesantren keracunan MBG. penyebabnya karena ketidaksiapan dari pengelolaan MBG yang tidak sesuai SOP, atau mungkin akibat kerakusan dan kelalaian tangan manusia yang memandang begitu murah sebuah jiwa.
Lokasi kejadian beragam. Di antaranya termasuk di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur; Kabupaten Rembang, Jawa Tengah; Kabupaten Agam, Sumatra Barat; Tana Toraja, Sulawesi Selatan; dan Kabupaten Pati, Jawa Tengah.
Kejadian terbaru terjadi di Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB) pada Jumat (11-09). Setidaknya 333 orang siswa dari sejumlah sekolah di Lombok Tengah, termasuk SDN Beber, SD Mertak Kesambik, dan MTs Qudratun Hasanah, diduga mengalami keracunan usai mengonsumsi menu MBG. (BBC.com, 02-09-2026)
Ketika urusan perut dijadikan ladang cuan, akhirnya ratusan anak harus menjadi korban program MBG. Sungguh sangat miris sekali, jika kita melihat dan mendengar terus berulangnya kejadian tersebut. Namun, anehnya pemerintah selalu melemparkan kesalahan kepada orang lain di luar operasional, seperti tidak sesuai standar SOP, guru yang membagikan makanan disalahkan, atau pembagian makanan yang sudah lewat waktu yang ditentukan dan alasan-alasan lainnya.
Padahal, sebenarnya yang harus dikoreksi terlebih dahulu adalah tempat dapur MBG. Apakah pengolahan makanan dan dapur MBG sudah sesuai dengan standar dan prosedurnya? Seperti alat-alat masak yang digunakan harus bersih, bahan-bahan makanan harus masih layak untuk dimasak dan dikonsumsi, pekerja MBG harus selalu menjaga kebersihan, dan standar gizi makanannya juga harus diperiksa oleh ahli gizi. Hal ini dilakukan bukan sekadar memberikan makanan gratis kepada anak sekolah, namun juga agar anak-anak tetap terjaga kesehatan dan keselamatannya.
Oleh karena itu, kualitas makanan harus diperhatikan agar penerima MBG terjaga dan terhindar dari penyakit. Namun, fakta yang terjadi mereka malah keracunan MBG secara berulang. Anehnya, program MBG tersebut masih dipertahankan dan terus berjalan. Apakah ini menunjukkan keegoisan pemimpin negara? Padahal, dampaknya nyata menyusahkan dan membawa bencana, bahkan menelan korban jiwa. Pemerintah harusnya tegas terhadap pengelola MBG yang melanggar SOP. Mereka harus ditindak dengan ditemukannya banyak bukti atas kelalaian dalam mengelola program MBG.
Bayangkan berapa banyak anak yang sudah keracunan makanan di berbagai daerah yang berbeda-beda, kalau bukan karena kelalaian dari sistem pengelolaan yang salah. Memberikan makanan kepada ratusan anak tanpa melewati pemeriksaan dokter gizi, bukankah ini juga kesalahan besar? Memang para pejabat dalam sistem kapitalis tamak dan rakus. Program MBG mereka jadikan sebagai ladang cuan. Tampak murahnya nyawa seseorang di mata mereka, yang penting mereka mendapat keuntungan yang besar sehingga tak peduli berapa banyak korban menjadi tumbal, selama tujuannya dapat tercapai.
Inilah potret buram sistem kapitalisme sekuler. Sistem yang memisahkan agama dari kehidupan. Urusan perut jadi rebutan sedangkan kehidupan rakyat tidak diprioritaskan. Masalah keracunan tidak hanya selesai karena korban telah mendapatkan pengobatan, akan tetapi harus ada evaluasi kinerja secara menyeluruh agar keracunan ini tidak kembali terulang. Pemerintah harus benar-benar serius dalam menjaga kualitas makanannya demi kesehatan anak-anak, jangan hanya melihat keuntungan yang besar yang diperoleh dari program MBG tersebut.
الإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
"Imam (pemimpin) adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas rakyat yang diurusnya." ( HR. Muslim)
Dalam pandangan IsIam, pemenuhan kebutuhan rakyat adalah kewajiban negara secara keseluruhan, mulai dari sandang, pangan, dan papan, termasuk menjamin kesehatan dan keamanan. Pemimpin bertanggung jawab sepenuhnya dalam pengurusan rakyat, tidak didasari layaknya transaksi jual beli, serta memberikan kualitas pelayanan terbaik bagi rakyatnya.
Pemimpin juga bukan sekadar membuat program unggulan untuk rakyat, tetapi justru mengabaikan keselamatan rakyat seperti halnya hari ini. Pemimpin dalam IsIam harus memprioritaskan hidup rakyat di atas segalanya sehingga tujuan pemimpin pun sangat jelas untuk memenuhi kebutuhan dan menyejahterakan rakyatnya.
Jadi, persoalan MBG ini bukan hanya sekadar masalah pelanggaran SOP saja, namun karena negara memberikan celah untuk melakukan korupsi. Di mana program MBG ini dikomersialkan sehingga banyak pihak-pihak oligarki yang ikut menungganginya. Ditambah lagi sikap kurang tegas dan pengawasan langsung dari negara. Demikian pula kelalaian kerja di lapangan yang carut marut. Pihak pengelola hanya bertujuan mencari keuntungan bukan untuk memenuhi kebutuhan gizi rakyat.
Seharusnya rakyat semakin sadar, bahwa kesalahan pengelolaan MBG ini akibat diterapkannya sistem kapitalisme yang hanya berazaskan pada keuntungan. Berbeda dengan sistem IsIam yang tujuannya untuk kemaslahatan dan kesejahterakan hidup rakyat. Jadi, masihkah kita percaya pada sistem kapitalisme? Saatnya umat bangkit dan berjuang untuk beralih ke sistem IsIam dalam naungan Khilafah Islamiyah.
Wallahualam bissawab.

Komentar
Posting Komentar