Mengubah Sistem Kufur dari Dalam Adalah Ilusi, Mengapa?


OPINI


Oleh Nur Fitriyah Asri

Penulis Ideologis dan Aktivis Dakwah


Muslimahkaffahmedia.eu.org-Banyak orang terjebak pada narasi lama yang tampak masuk akal, tetapi sejatinya menyesatkan: jika ingin mengubah keadaan, harus masuk ke dalam sistem agar bisa memperbaikinya dari dalam, harus menjadi bagian dari kekuasaan. Narasi tersebut terdengar rasional, bahkan heroik. Namun, catatan sejarah politik justru menunjukkan fakta sebaliknya, tidak sedikit figur kritis yang runtuh idealismenya setelah masuk ke lingkaran kekuasaan.


Realitasnya, banyak politisi dan akademisi yang dahulu dikenal sangat lantang di luar pemerintahan. Mereka kritis kepada penguasa, gemar mengungkap skandal, serta disukai kalangan mahasiswa. Bahkan mereka berani menyuarakan reformasi dengan keras. Akan tetapi, begitu memperoleh jabatan menteri, komisaris, atau posisi di lingkar istana, suara kritis itu tiba-tiba hilang. Mengapa demikian? Karena kekuatan sistem jauh lebih dominan daripada ideologi personal.


Fenomena terbaru adalah Rocky Gerung. Sosok filsuf yang selama puluhan tahun identik dengan oposisi pengkritik kekuasaan. Kritiknya terhadap oligarki dan teknokrasi sangat tajam. Namun, pada 2 Oktober 2026, ia resmi dilantik menjadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden atau Wantimpres berdasarkan Keppres 107/P/2026. Alasannya ingin melakukan radical break dari dalam, ingin gagasannya sampai dua detik lebih cepat ke telinga Presiden Prabowo (Instagram.com, 2/10/2026). Alasan yang terdengar puitis, tetapi apakah realistis?


Sementara itu, aturan hukum tentang Wantimpres justru mengikat. Berdasarkan UU Nomor 19 Tahun 2006, Wantimpres bersifat rahasia, nasihatnya tidak boleh dibuka kepada publik, dan kedudukannya hanya sebagai pemberi pertimbangan etis yang tidak mengikat. Artinya, dari seorang pengkritik yang bebas berbicara di kampus, di ILC, dan di media sosial, kini ia harus menyampaikan pendapat di ruang tertutup istana dengan protokol yang ketat. Dari pengkritik yang merdeka, menjadi penasihat yang terikat. Apakah ini yang disebut sebagai perubahan?


Fakta yang lebih besar adalah Prabowo Subianto sendiri. Besarnya harapan umat kepadanya sebagai penggagas perubahan, sungguh tidak ada yang meragukan. Aksi 212, aksi di Monas, dan jutaan orang yang berkumpul karena menilai Prabowo sebagai simbol perubahan dan perlawanan terhadap kezaliman. Namun, ketika akhirnya masuk dan menjadi bagian inti dari sistem yang sama, apa yang terjadi? Pengelolaan sumber daya alam tetap diserahkan kepada korporasi asing melalui UU Minerba dan UU Cipta Kerja. Pajak rakyat kecil terus diperas, sementara kekayaan nikel di Morowali, batu bara di Kalimantan, dan emas di Papua tetap mengalir ke kantong oligarki. Sistem tidak berubah, yang berubah hanyalah orangnya yang kini menjadi penjaga sistem tersebut.


Bagaimana dengan panggung internasional? Contohnya Mohamed Morsi di Mesir. Seorang hafiz Al-Qur'an, seorang insinyur yang tulus ingin menerapkan syariat melalui jalur demokrasi. Ia menang secara demokratis dengan suara sah rakyat. Namun, apa balasan dari sistem demokrasi sekuler? Ketika Islam hampir berkuasa melalui kotak suara, maka militer yang didukung Amerika melakukan kudeta berdarah pada 2013. Morsi dipenjara hingga wafat. Peristiwa ini menjadi pelajaran sangat mahal bagi kita, bahwa demokrasi tidak akan pernah membiarkan Islam berkuasa secara hakiki melalui mekanismenya sendiri. Begitu Islam menang, demokrasi akan membatalkan kemenangannya.


Watak Asli Demokrasi


Inilah watak asli demokrasi kapitalis sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan. Agama dilarang mengatur ranah publik dan negara.


Sebab, dalam demokrasi kapitalis sekuler, kedaulatan berada di tangan manusia, bukan di tangan Allah Swt.. Standar benar dan salah ditentukan oleh suara terbanyak, bukan oleh halal dan haram. Ketika seorang aktivis yang tulus memutuskan masuk ke dalamnya, maka ia wajib bersumpah setia kepada konstitusi sekuler, bukan kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah. Ia wajib berkompromi dengan transaksi politik, lobi oligarki, serta ide-ide kufur seperti sekularisme, liberalisme, pluralisme, dan isme-isme lainnya. Lama-kelamaan, ketajaman berpikirnya tumpul, idealismenya terkikis, dan tanpa sadar ia berubah menjadi penjaga setia sistem yang dulu ia kutuk.


Allah Swt. berfirman dalam QS. Hud ayat 113, artinya: "Dan janganlah kalian cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kalian disentuh api neraka, dan sekali-kali kalian tidak mempunyai seorang penolong pun selain Allah, kemudian kalian tidak akan diberi pertolongan." Dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa cenderung saja sudah dilarang dan diancam neraka, apalagi masuk, duduk, dan menjadi bagian dari sistem kufur itu sendiri.


Jalan Perubahan Hakiki


Allah Swt. berfirman dalam QS. Al-Hasyr ayat 7, "Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah."


Ayat ini menegaskan tentang kewajiban setiap muslim untuk menaati segala perintah Nabi saw. dan meninggalkan semua larangannya. Perintah dan larangan Rasulullah saw. pada hakikatnya bersumber dari wahyu Allah Swt., sehingga kedudukannya wajib diikuti sebagaimana hukum yang ada di dalam Al-Qur'an.


Termasuk tariqah atau metode sahih, satu-satunya metode perubahan yang dijamin kebenarannya karena bersumber dari wahyu, bukan dari teori politik manusia.


Sejarah telah mencatat dengan tinta emas bagaimana Rasulullah saw. memperbaiki jahiliah dari luar parlemen Darun Nadwah, gedung kebanggaan kaum Quraisy saat itu. Pintu Darun Nadwah terbuka lebar untuk Beliau saw.. Kaum kafir Quraisy bahkan menawarkan kepada Beliau saw. kekuasaan, harta berlimpah, dan wanita tercantik agar Beliau saw. mau masuk dan berkompromi dengan sistem mereka. Namun, apa jawaban Beliau saw.? Dengan tegas Beliau saw. menolak tawaran itu. Rasulullah saw. bersabda dengan kalimat yang mengguncang sejarah: "Demi Allah, seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan urusan ini, niscaya aku tidak akan meninggalkannya sampai Allah memenangkannya atau aku binasa karenanya."


Rasulullah saw. memilih jalan yang lebih berat, tetapi mulia. Beliau saw. membangun kesadaran umat dari luar sistem. Beliau saw. melakukan shiraul fikri atau pertarungan pemikiran untuk membongkar kebatilan ideologi jahiliah. Beliau saw. melakukan kifahus siyasi atau perjuangan politik tanpa kompromi sedikit pun terhadap sistem kufur. Selanjutnya, Beliau saw. mencari nusrah atau pertolongan dari ahlul quwwah atau pemilik kekuatan hingga akhirnya Allah Swt. memberikan kemenangan dengan tegaknya Daulah Islam yang murni dan kafah di Madinah.


Metode inilah yang wajib kita ikuti. Sebab, perubahan besar yang mendasar di dunia tidak pernah lahir dari dalam parlemen sistem yang rusak. Runtuhnya Uni Soviet bukan karena ada anggota politbiro yang memperbaiki komunisme dari dalam parlemen komunis, tetapi karena kebobrokan ideologi komunisme itu sendiri yang berhasil dikuliti habis dari luar. Begitu pula sistem hari ini, ia tidak akan runtuh hanya karena kita masuk ke dalamnya. Akan tetapi, jika kita berani mendobraknya dari luar dengan ideologi sahih yang jelas lebih cemerlang dan unggul, yaitu Islam, bisa dipastikan ia akan runtuh.


Oleh karena itu, kita harus berhenti berharap pada lubang yang sama. Lubang yang telah berkali-kali membuat kita kecewa. Jangan lagi tertipu dengan jargon radical break dari dalam istana. Tidak ada radical break di dalam sistem yang batil. Yang ada hanyalah break atau putusnya idealisme kita sendiri.


Perubahan hakiki menuju tegaknya syariat Islam secara kafah tidak akan pernah lahir dari rahim demokrasi yang kotor dan penuh kompromi. Ia hanya akan lahir dari rahim dakwah pemikiran yang kokoh, sabar, istikamah, dan konsisten di tengah-tengah umat, sebagaimana tariqah Rasulullah saw. yang telah terbukti berhasil mengubah dunia.


Wallahualam bissawab.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Filisida Maternal, Rapuhnya Ibu dalam Sistem Toxic

Kasus Pagar Laut, Bukti Penguasa Tunduk Kepada Pengusaha

Akhir Jeda Sebuah Keteguhan