Santri, Jangan Cuma Jadi Generasi Emas!
OPINJ
Oleh Fadia Nur Amalia
(Aktivis Muslimah)
MuslimahKaffahMedia.eu.org, OPINI-Setiap Hari Santri tiba, kita melihat para santri tampil dengan berbagai kemampuan, ada yang mengikuti lomba pidato, menunjukkan bakat seni, berkompetisi dalam olahraga, hingga memamerkan keterampilan yang mereka miliki. Semua itu tentu bisa menjadi hal positif, untuk mengembangkan potensi santri. Namun, di tengah meriahnya perayaan tersebut, ada pertanyaan yang perlu direnungkan. Apakah kita masih menempatkan lahirnya ulama sebagai tujuan utama pendidikan pesantren, atau justru semakin sibuk menyiapkan santri agar sesuai dengan kebutuhan pembangunan?
Pertanyaan ini penting, karena santri bukan sekadar pelajar yang tinggal di pondok pesantren. Mereka adalah generasi yang menimba ilmu agama, membentuk akhlak, dan diharapkan mampu membimbing masyarakat berdasarkan ajaran Islam. Jika peran mereka hanya diukur dari prestasi, produktivitas, atau keberhasilan memasuki berbagai bidang pekerjaan, maka kedalaman ilmu agama justru akan tersisih. Santri memang perlu berkembang dan menguasai berbagai ilmu, tetapi semua itu seharusnya untuk memperkuat peran keislamannya, bukan mengaburkan tujuan utama mereka menuntut ilmu.
Berdasarkan data Kementerian Agama RI per Oktober 2026, jumlah santri yang terverifikasi melalui pendataan By Name By Address (BNBA) mencapai 4.634.406 orang. Angka ini menunjukkan besarnya potensi generasi yang sedang menempuh pendidikan di pesantren. Pada Hari Santri tahun ini, Kemenag mengusung tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas." Sementara itu, Nahdlatul Ulama mengangkat tema “Menguatkan Akar Tradisi, Menjaga Keutuhan Negeri." Kedua tema tersebut menekankan kontribusi santri bagi masyarakat dan bangsa, sekaligus mengingatkan pentingnya menjaga tradisi pesantren. (kemenag.go.id, 15/10/2026)
Santri juga diharapkan menjadi generasi yang kreatif, produktif, mampu beradaptasi, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, serta memiliki kemandirian ekonomi dan kepedulian sosial. Harapan tersebut tidak keliru, sebab Islam pun mendorong umatnya untuk berilmu dan memberikan manfaat bagi kehidupan. Namun, persoalannya muncul ketika ukuran keberhasilan santri lebih banyak diarahkan pada kemampuan berkontribusi dalam pembangunan, sementara pembentukan kader ulama tidak mendapatkan penekanan yang sepadan. Jangan sampai santri semakin terampil menghadapi tuntutan zaman, tetapi justru semakin sedikit yang dipersiapkan untuk memahami persoalan umat dengan ilmu Islam yang mendalam.
Peringatan Hari Santri juga berisiko berhenti sebagai agenda tahunan apabila semangatnya hanya terasa selama rangkaian acara berlangsung. Perlombaan, pertunjukan seni, kegiatan olahraga, dan berbagai kompetisi keterampilan memang dapat mempererat kebersamaan serta mengasah kemampuan. Namun, setelah panggung dibongkar dan perayaan selesai, apa yang tersisa jika tidak ada penguatan pendidikan, pendalaman ilmu, dan pembinaan kepribadian Islam? Hari Santri seharusnya bukan sekadar kesempatan mengenakan atribut pesantren atau meramaikan acara, melainkan momentum untuk mengevaluasi arah pendidikan santri dan masa depan umat.
Hal lain yang perlu dicermati adalah ketika pengamalan nilai agama selalu dikaitkan dengan nilai kebangsaan tanpa pembahasan yang utuh mengenai kedudukan Islam sebagai pedoman hidup. Kecintaan terhadap tanah kelahiran dan kepedulian kepada masyarakat tentu bukan sesuatu yang harus dipertentangkan dengan agama. Akan tetapi, jika nasionalisme dijadikan batas utama dalam menentukan kepedulian dan perjuangan, cakrawala santri bisa menyempit pada kepentingan bangsa sendiri. Padahal, umat Islam memiliki ikatan akidah yang melampaui batas negara. Kepedulian kepada umat Islam yang mengalami penindasan di negeri lain seharusnya tetap tumbuh karena mereka adalah saudara seiman.
Lantas, bagaimana seharusnya pendidikan santri diarahkan? Islam menempatkan pendalaman ilmu agama sebagai perkara penting agar umat memiliki orang-orang berilmu yang mampu membimbing masyarakat. Allah Swt. berfirman:
وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ
“Tidak sepatutnya orang-orang mukmin pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi (tinggal bersama Rasulullah) untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya.” (QS. At-Taubah: 122)
Umat membutuhkan orang-orang yang bersungguh-sungguh memperdalam agama, lalu menyampaikan ilmunya untuk membimbing kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, pesantren perlu memastikan bahwa lahirnya kader ulama tetap menjadi salah satu tujuan utama pendidikannya. Santri tidak cukup hanya mampu membaca kitab, tetapi juga perlu memahami persoalan kehidupan dan mengkaji bagaimana Islam memberikan tuntunan terhadapnya. Dengan bekal tersebut, mereka dapat menjadi pendidik, pendakwah, pembimbing umat, sekaligus penggerak perubahan yang berlandaskan syariat.
Lebih jauh, santri perlu dipersiapkan menjadi generasi pemimpin yang mampu membangun kembali peradaban Islam. Hal ini, membutuhkan ilmu agama yang mendalam, penguasaan ilmu pengetahuan, pemahaman terhadap persoalan umat, serta keberanian menyampaikan kebenaran. Berbagai persoalan, seperti kemiskinan, ketidakadilan, kerusakan moral, dan ketimpangan sosial, tidak cukup disikapi dengan nasihat individual saja. Diperlukan pemahaman menyeluruh mengenai kehidupan dan sistem yang mengaturnya, sehingga dakwah tidak berhenti pada perubahan perilaku pribadi, tetapi turut mendorong perbaikan masyarakat.
Dalam perspektif politik Islam, umat dipandang sebagai satu kesatuan yang tidak seharusnya terpecah oleh fanatisme kebangsaan. Gagasan Khilafah menempatkan persatuan umat dalam satu kepemimpinan, yaitu khalifah, dan satu institusi pemerintahan yang menerapkan syariat Islam secara kafah. Dalam kerangka pemikiran ini, kaderisasi ulama memiliki peran penting untuk membentuk generasi yang memahami Islam bukan hanya sebagai ibadah personal, tetapi juga sebagai pedoman dalam mengatur kehidupan. Upaya membangun peradaban tersebut membutuhkan proses pendidikan, dakwah, pembinaan umat, dan perjuangan yang berlandaskan ilmu serta tanggung jawab.
Hari Santri seharusnya menjadi pengingat bahwa masa depan umat tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak santri yang mampu berprestasi, tetapi juga oleh seberapa kuat ilmu dan kepribadian Islam tertanam dalam diri mereka. Santri boleh menguasai teknologi, menjadi ahli ekonomi, berkarya di berbagai bidang, dan memberikan kontribusi bagi masyarakat. Namun, jangan sampai cita-cita melahirkan ulama tenggelam di tengah tuntutan menjadi generasi yang produktif dan kompetitif. Umat membutuhkan generasi yang bukan hanya mampu mengikuti perubahan zaman, tetapi juga memahami arah perubahan berdasarkan Islam. Dari pesantrenlah diharapkan lahir ulama dan pemimpin yang berilmu, berkepribadian Islam, serta siap berjuang membangun peradaban Islam yang membawa rahmat bagi seluruh alam.
Wallahualam bissawab.

Komentar
Posting Komentar