Postingan

Ketika Al-Qur’an Dijaga di Negeri Terjajah, Mengapa Ia Terlupa di Negeri Merdeka?

Gambar
  OPINI Ayat ini mengingatkan bahwa ujian hidup bukan semata tentang kehilangan, tetapi tentang bagaimana manusia meresponsnya dengan kesabaran dan keteguhan iman. Di Gaza, ujian dijawab dengan kelekatan pada Al-Qur’an. Di negeri kita, ujian sering hadir dalam bentuk kenyamanan yang perlahan melalaikan Oleh  Anita Humayroh  Pegiat Literasi Muslimahkaffahmedia.eu.org , Di tengah reruntuhan rumah, debu yang tak kunjung reda, dan suara sirene yang menghantui setiap waktu, masih ada lantunan yang terus bergema—suara anak-anak Palestina yang membaca dan menghafal Al-Qur’an. Baru-baru ini, di Kamp Pengungsi Al-Shati, Gaza, sebanyak 500 penghafal Al-Qur’an mendapat penghormatan dari masyarakat setempat melalui sebuah perayaan sederhana namun sarat haru, meskipun perang masih berlangsung di sekeliling mereka. Peristiwa ini menjadi simbol kuat keteguhan spiritual masyarakat Palestina serta bukti bahwa Al-Qur’an tetap hidup di tengah kondisi paling gelap. ( detik.com , 29/12/25) Ba...

Bencana Sumatera antara Bencana Nasional dan Prioritas Nasional

Gambar
OPINI Oleh Ria Nurvika Ginting, SH,MH  Dosen-FH Muslimahkaffahmedia.eu.org- Pasca bencana di Sumatera kondisi wilayah yang terdampak masih sangat memprihatinkan. Sampai saat ini, masyarakat banyak yang kecewa dan mengeluh dengan lambatnya penanganan bencana oleh pemerintah. Bahkan beberapa pejabat memanfaatkan bencana tersebut untuk pencitraan serta ajang berkampanye.  Ironisnya, ini merupakan urusan nyawa manusia yang harus dipertanggungjawabkan. Jumlah korban hari demi hari mengalami peningkatan. Tercatat hingga 17 Desember 2025 jumlah warga yang meninggal tembus angka 1.053 orang. Sebanyak 200 warga masih dinyatakan hilang dan jumlah pengungsi mencapai 606.040 orang.  Lambatnya penanganan bencana di Aceh membuat masyarakat akhirnya menaikkan bendera putih, bahkan ada yang nekat mengibarkan bendera GAM sebagai protes lambatnya bantuan pemerintah pusat. Pemerintah hingga saat ini terus bernarasi bahwa sudah berupaya dengan semaksimal mungkin untuk menangani bencana. Bah...

Tahun Baru Masehi, Ritual yang Menyimpang?

Gambar
OPINI Perayaan Tahun Baru Masehi pada dasarnya mengikuti gaya orang kafir (tasyabbuh). Oleh Nur Fitriyah Asri Penulis Opini Ideologis Muslimahkaffahmedia.eu.org- Bagi sebagian orang, pergantian tahun Masehi merupakan momen untuk bersenang-senang dan berhura-hura. Tetapi, bagi umat Islam, perayaan Tahun Baru Masehi (1 Januari) justru sarat dengan ritual yang menyimpang dari ajaran agama Islam, mengapa? Karena dianggap meniru tradisi, budaya, dan agama nonmuslim (kaum kafir).  Asal-Usul Tahun Baru Masehi Menurut Wikipedia, Tahun Baru Masehi (1 Januari) memiliki sejarah panjang. Awalnya kalender Romawi kuno yang memiliki 10 bulan, Maret sebagai bulan pertama. Lalu, pada tahun 153 SM oleh Januarius , bulan Januari dijadikan bulan pertama. Selanjutnya pada tahun 45 SM, Raja Romawi Julius Caesar memperkenalkan kalender Julian yang dibuat mengikuti revolusi matahari (365,25 hari). Sejak tahun ke-46 SM, 1 Januari ditetapkan sebagai awal tahun. Dalam mitologi Romawi , nama Januari diamb...

Mewaspai Upaya Perusakan Akidah Islam

Gambar
OPINI Oleh Tinah Asri  Aktivis Dakwah dan Pegiat Literasi  Muslimahkaffahmedia.eu.org- "Bagai bara dalam sekam." Ungkapan ini cocok untuk menggambarkan adanya bahaya terselubung yang berusaha merusak kehidupan beragama di tanah air. Awal mula pengaruhnya kecil, tetapi lambat laun dikhawatirkan bisa merusak akidah khususnya generasi muda kaum muslim. Hal ini seperti yang terjadi di Tangerang, Banten, Jawa Barat , ratusan orang ramai-ramai mengganti kolom agama dalam Kartu Tanda Penduduk (KTP) menjadi " Penghayat Kepercayaan " Dikutip dari AntaraBanten.com (05-10-2025), Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) wilayah Banten mencatat sedikitnya 178 orang di wilayah itu mengajukan penggantian kolom agama menjadi Penghayat Kepercayaan.  Menurut Kepala Bidang Pengelolaan Informasi Disdukcapil Banten, penggantian penghayat kepercayaan ini didukung oleh Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) No 97/-PUUK XIV/ 2016 yang diperkuat oleh Peraturan Presiden (Perpres) No 96...

Menjadi Ibu Generasi di Tengah Gerusan Kapitalistik

Gambar
OPINI   Oleh Luluk Kiftiyah  Pegiat Literasi  Muslimahkaffahmedia.eu.org. Tuntutan ekonomi dalam sistem kapitalistik tidak dimungkiri semakin meningkat. Seorang ibu yang seharusnya menjadi ummu wa rabbatul bait (pengatur rumah tangga dan pendidik anak-anak) kini tak sedikit yang bergeser menjadi tulang punggung. Padahal peran ibu ada di posisi sentral yakni sebagai pendidik utama dalam pembentukan karakter, akhlak, dan kepribadian anak. Bergesernya peran sentral ini menimbulkan masalah baru, yakni makin maraknya kasus pelecehan seksual terhadap anak, karena kebutuhan nau' (naluri seksual) tidak terpenuhi. Seperti kasus di Situbondo . Seorang anak di bawah umur, berinisial N (16) mengalami kekerasan seksual dan pelakunya adalah ayah dan pamannya. Ia mengalami kekerasan seksual sejak April-Oktober 2025. ( jatim.antaranews.com , 19/12/2025) Tidak dimungkiri jika kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak dari tahun ke tahun semakin meningkat. Dinas Pemberdayaan Perempuan ...

Mencetak Generasi Emas di Era Kapitalis

Gambar
OPINI Oleh Venni Hartiyah Pegiat Literasi Muslimahkaffahmedia.eu.org- Allah sebagai Al Khaliq yang telah menciptakan kita di dunia ini mempunyai beberapa tujuan, salah satunya adalah menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Manusia juga diciptakan berpasang-pasangan dengan tujuan untuk melestarikan jenisnya. Sehingga umat Rasulullah shallallahu alayhi wa salam menjadi semakin banyak. Frasa Ibu adalah madrasah pertama (al ummu madrasatul ula) merupakan sebuah pepatah atau ungkapan yang terkenal, yang dipopulerkan oleh penyair Mesir Hafiz Ibrahim . Maknanya bahwa ibu adalah pendidik pertama dan utama bagi anak. Membentuk akhlak dan karakter yang baik sedini mungkin. Fitrah dan tanggung jawab yang melekat sebagai orang tua sangatlah penting untuk dimengerti oleh kita yang berperan sebagai orang tua.  Dilansir dari tribun-timur , Jumat (12-12-25), Aisyah Cendekia Islamic School kembali menunjukkan konsistensinya sebagai sekolah Islam yang mencetak generasi penghafal Al-Qur’...

Menjadi Ibu di Zaman Rusak: Bertahan atau Melawan?

Gambar
OPINI Oleh Ummu Qianny Aktivis Muslimah Muslimahkaffahmedia.eu.org- Ada masa ketika menjadi ibu terasa wajar-wajar saja. Hari ini tidak, menjadi ibu rasanya seperti berjalan sambil menggendong amanah di tengah jalan yang licin, ramai, dan bising. Salah sedikit anak bisa jatuh, dan seringnya ibu yang pertama kali disalahkan. Dalam Islam posisi ibu tidak pernah dianggap ringan. Dari awal memang berat, karena dari rahim seorang ibulah lahir bukan hanya anak tapi juga arah hidup umat.  Kita bisa melihat sejarah bagaimana ulama besar, pemimpin tangguh, para pejuang, mereka tidak lahir dari ibu yang asal-asalan, tetapi mereka dibesarkan oleh perempuan yang paham bahwa menjadi ibu itu bukan sekadar peran domestik, tapi amanah besar. Allah SWT sudah mengingatkan dengan sangat jelas: " Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.. ." ( QS. At-Tahrim: 6) Ayat ini bukan ayat penghibur, melainkan perintah. Menjaga keluarga dari api neraka, bukan cuma...