Postingan

GEN Z, Kembali Ke Fitrah Untuk Bangkit

Gambar
  OPINI Oleh Windi Permana, S.Sos. Pendidik Generasi Idiologis  Antara Kecemasan Finansial dan Kebutuhan Emosional Data terkini mencatat bahwa lebih dari 48 persen Generasi Z di Indonesia mengaku tidak merasa aman secara finansial [ money.kompas.com , 19/02/26]. Angka ini merepresentasikan hampir separuh populasi usia produktif muda yang masih berada dalam tahap awal membangun karier. Ketidakpastian lapangan kerja, laju inflasi, serta stagnasi pertumbuhan upah menjadi beberapa faktor struktural yang memengaruhi persepsi keamanan ekonomi di kalangan mereka. Dengan kata lain, mayoritas Gen Z menjalani hari-hari dengan kesadaran penuh bahwa kondisi dompet mereka rapuh dan sulit diprediksi. Meskipun tekanan ekonomi terasa nyata, data perilaku konsumsi menunjukkan bahwa alokasi belanja Gen Z untuk keperluan self-reward, healing , dan gaya hidup hedonis justru mengalami peningkatan. Kenaikan ini tidak terjadi karena keinginan semata, melainkan didorong oleh persepsi bahwa pengeluara...

Sarjana di Persimpangan Jalan

Gambar
  OPINI Oleh Elfia Prihastuti   Praktisi Pendidikan MuslimahKaffahMedia.eu.org , OPINI- Momen wisuda yang seharusnya menjadi gerbang menuju masa depan cerah kini kerap berubah menjadi awal dari kecemasan panjang. Ribuan lembar ijazah sarjana yang dicetak setiap semester tak lagi menjadi jaminan instan untuk meraih pekerjaan impian. Di tengah kemajuan teknologi dan klaim pertumbuhan ekonomi, negeri ini justru menghadapi paradoks nyata: melimpahnya lulusan perguruan tinggi yang terjebak dalam lingkaran pengangguran terdidik. Berdasarkan data Survei Angkatan Kerja Nasional Badan Pusat Statistik, jumlah sarjana menganggur menembus angka 1.033.182 jiwa [14,13 persen dari total penganggur nasional sebesar 7,22 juta jiwa] pada Mei 2026. Hal ini cukup miris. Penganggur di antaranya terkategori orang-orang berlatar belakang sarjana terapan, S-1, S-2, dan S-3 [ Kompas.id , 7/8/2026]. Fenomena sarjana menganggur lebih dari satu juta orang merupakan alarm bahaya bagi kehidupan masa d...

MOLINAS DAN JEBAKAN RIBA: KETIKA NEGARA MENGUNDURKAN DIRI

Gambar
OPINI   Oleh: Qitfirul Azizah Pencerah Idiologis  Muslimahkaffahmedia.eu.org- Peluncuran Motor Listrik Nasional digaungkan sebagai langkah besar menuju kemandirian energi. Sayangnya, di balik euforia tersebut terselip fakta: dominasi modal asing-swasta, ketergantungan impor komponen, dan rakyat yang akhirnya hanya disodori opsi pembiayaan berbunga. KEMERIAHAN LISTRIK DI TENGAH PROBLEM STRUKTURAL Pada tanggal 13 Agustus 2026, dari pabrik ALVA di Bekasi, Presiden Prabowo memperkenalkan "Molinas" - Motor Listrik Nasional. Hal ini disebut sebagai "pengubah permainan" [Siaran Pers Presiden RI, 13 Agustus 2026]. Tak lama setelah itu muncul wacana produksi massal Mobil Listrik Nasional pada 2028 dengan pusat industri di Subang [ InvestorTrust.id , 2026]. Kedengarannya menjanjikan, energi bersih, industri mandiri, dan Indonesia berdikari. Tetapi mari kita tanya: siapa pemodalnya? Siapa penguasa pasarnya? Selanjutnya, siapa yang disuruh membayar? Realitanya, proyek ini diger...

Jalan Islam Memberantas Akar LGBTQ

Gambar
OPINI Windi Permana S.Sos Aktivis Dakwah Pendidikan atau Pencederaan Pemikiran Anak? Muslimahkaffahmedia.eu.org- Rencana Kementerian Agama memasukkan materi pencegahan LGBT ke kurikulum 2026/2027 ( detik.com , 23-07-26), perlu dipertanyakan secara mendasar. Apakah anak kelas IV SD benar-benar perlu diperkenalkan pada isu yang tergolong dewasa ini? Tanpa kajian psikologis yang matang, kebijakan ini berisiko melahirkan stigma dan kecemasan, bukan pemahaman yang utuh. Rencananya proses pembelajaran akan dilakukan melalui mekanisme insersi ke dalam kurikulum yang sudah ada, dengan sasaran peserta didik mulai kelas IV SD hingga jenjang SMP dan SMA (kemenag.go.id, 21-07-26). Artinya, materi ini tidak akan menjadi mata pelajaran baru, melainkan disisipkan ke dalam mata pelajaran yang dianggap relevan di setiap tingkatan. Metode insersi ini juga menyisakan keraguan. Guru yang belum terlatih dan kurikulum yang padat membuat materi ini berpotensi disampaikan secara dangkal. Pendidikan karakter y...

Satu Juta Sarjana Menganggur, Siapa yang Bertanggung Jawab?

Gambar
OPINI Oleh Nia Rahmat Pegiat Literasi Muslimahkaffahmedia.eu.org- Gelar sarjana tidak bisa menjamin seseorang bebas dari ancaman pengangguran. Berdasarkan data terbaru Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) per Mei 2026, jumlah pengangguran berlatar belakang sarjana mencapai 1.033.182 orang. Diantaranya merupakan pengangguran berlatar belakang sarjana terapan atau S-1, S-2, dan S-3. Peneliti Pusat Riset Kependudukan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Yono Endar Prasetyo berpendapat, meski TPT (Tingkat Pengangguran Terbuka) secara total turun dari sekitar 5% pada 2022 menjadi 4% pada 2026. Sementara porsi pengangguran sarjana terhadap total porsi pengangguran terus naik dari sekitar 8% ke 14%. Hal ini bisa menjadi indikasi kuat adanya tren struktural yang berjalan independen dari siklus ekonomi. "Ekspansi akses pendidikan tinggi tidak diimbangi perluasan lapangan kerja formal. Penyerapan tenaga kerja justru lebih banyak di pekerjaan berketerampilan rendah", ujarnya d...

Ikhtiar Sudah, Loker Masih “Coming Soon”

Gambar
OPINI Oleh Fadia Nur Amalia Aktivis Muslimah  Muslimahkaffahmedia.eu.org- Toga sudah dikenakan, foto wisuda sudah diabadikan, ucapan selamat sudah berdatangan. Setelah itu, apa? Bagi lebih dari satu juta sarjana, perjalanan setelah wisuda justru bisa menjadi babak yang jauh lebih berat. Lamaran dikirim berkali-kali, jobfair didatangi, tetapi pekerjaan yang sesuai tak kunjung ditemukan. Lalu, untuk apa bertahun-tahun menempuh pendidikan jika setelah lulus pintu menuju dunia kerja masih begitu sulit didapat? Jumlah pengangguran lulusan sarjana di Indonesia telah menembus lebih dari satu juta orang. Kondisi tersebut ditengarai terjadi karena pertumbuhan lapangan kerja formal yang membutuhkan keterampilan tinggi belum mampu mengimbangi jumlah lulusan perguruan tinggi. Pendidikan tinggi terus menghasilkan lulusan, tetapi dunia kerja belum menyediakan cukup ruang untuk menampung mereka. Ijazah yang seharusnya menjadi bekal masa depan akhirnya berisiko hanya tersimpan di dalam map. ( Komp...

Pencegahan LGBTQ Melalui Kurikulum Sekolah, Efektifkah?

Gambar
OPINI Oleh: Ledy Ummu Zaid (Aktivis Muslimah) Dewasa ini, LGBTQ — lesbian, gay, biseksual, transgender, dan queer — telah menjadi pembahasan publik di Indonesia. Fenomena ini tidak lagi dianggap tabu. Faktanya, orientasi seksual yang menyimpang ini mulai terlihat lazim di tengah masyarakat.  Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI tahun 2022, tercatat sekitar 1.095.970 orang atau 0,44 persen dari populasi Indonesia masuk dalam kategori LGBTQ, seperti dilansir timesindonesia.co.id (02/05/2026). Sayangnya, penyebarannya kian masif. Karena itu, upaya pencegahan harus segera dilakukan secara serius. Pencegahan LGBTQ dalam Kurikulum Sekolah Dilansir dari kemenag.go.id (22/07/2026), Wakil Menteri Agama Romo Muhammad Syafi’i menyampaikan bahwa Kementerian Agama tengah menyiapkan materi edukasi pencegahan LGBTQ. Materi ini akan diberikan kepada siswa kelas IV SD hingga jenjang SMP dan SMA pada tahun ajaran 2026/2027. Mekanismenya adalah dengan menyisipkan materi tersebut ke dalam mata ...