Postingan

Gaza Tanpa Militer: Antara Perdamaian dan Kontroversi

Gambar
OPINI Oleh Sri Ummu Ahza  Aktivis Muslimah Muslimahkaffahmedia.eu.org- Persitiwa genosida berkepanjangan di Gaza disebut sebagai perang. Idealnya perang adalah kesiapan dua belah pihak yang melakukan perang dengan persenjataan dan kemampuan pasukan. Realitanya selama ini yang terjadi di Gaza tidak demikian. Rakyat Gaza justru sedang membela dan mempertahankan tanah mereka yang akan diambil alih oleh Zionis, dengan persenjataan yang minim dan pasukan seadanya.  Kejadian terus berlangsung hingga kini bahkan senjata mereka akan dilucuti. Dalam artian mereka mempertahankan tanpa militer atau persenjataan. Hal ini lebih dikenal dengan istilah demiliterisasi. Alasan adanya kebijakan demiliterisasi sebagai syarat perdamaian. Benarkah sebagai wujud perdamaian untuk Gaza? Deklarasi gencatan senjata fase kedua atas perang di Gaza dan membentuk Dewan Perdamaian (Board of Peace) yang melibatkan 35 negara, termasuk Indonesia. Hanya saja forum tersebut tidak melibatkan perwakilan Palestina...

Umat Islam Bersatu dan Bangkitlah!

Gambar
OPINI Irma Hidayati, S.Pd Pegiat Dakwah Muslimahkaffahmedia.eu.org- Gencatan senjata telah disepakati. Perang reda sementara. Namun, tekanan syarat-syarat perdamaian tetap berlangsung. Inilah perang modern. Tak hanya perang fisik tapi perang proksi. Perang AS-Isreal melawan Iran semakin membuka mata dunia. Bagaimana hegemoni militer AS yang nampak sempurna ternyata mudah dipatahkan oleh Iran. Serangan yang dilancarkan berhasil terdeteksi bahkan sudah tertebak akan serangan-serangan berikutnya. Gambaran kecanggihan dan kejeniusan strategi perang hanya nampak di film Hollywood. Bahkan sekedar melindungi pangkalan militernya yang berada di Libanon saja tak mampu. Akhirnya, kekalahan diminimalisir dengan diumumkan gencatan senjata. Iran menyatakan dirinya telah memenangkan peperangan ini. (mediaindonesia.com, 10/4/2024). Sikap Pongah AS AS, negara super power yang bertindak sebagai polisi dunia. Setelah berhasil mengobrak-abrik Venezuela, berhasrat untuk menundukkan Iran. Bayangannya akan...

Hemat yang Dipaksa, atau Kebijakan yang Perlu Dikoreksi?

Gambar
OPINI Oleh Anita Humayroh  (Pegiat Literasi dan Pemerhati Sosial) Muslimahkaffahmedia.eu.org- Belakangan ini, narasi penghematan energi kembali digaungkan. Rakyat didorong untuk hidup hemat dan prihatin, sementara Aparatur Sipil Negara (ASN) didorong untuk bersepeda (gowes) sebagai simbol efisiensi energi. Secara sekilas, kebijakan ini tampak sederhana dan bahkan terkesan positif. Namun jika ditelaah lebih dalam, muncul pertanyaan mendasar: apakah kebijakan ini benar-benar menyentuh akar persoalan, atau justru sekadar memindahkan beban kepada rakyat? Di tengah kondisi harga kebutuhan pokok yang terus melambung, imbauan untuk berhemat justru terasa seperti ironi. Rakyat diminta menyesuaikan diri, sementara realitas di lapangan menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat sudah hidup dalam keterbatasan jauh sebelum adanya seruan resmi tersebut. Bagi banyak keluarga, khususnya para ibu rumah tangga, praktik hidup hemat bukanlah kebijakan baru, melainkan keterampilan bertahan hidup yang...

Lebaran Datang Utang Menghadang

Gambar
OPINI Oleh Mardiyah  Aktivis Muslimah  Muslimahkaffahmedia.eu.org- Achmad Nur Hidayat (ANH), Ekonom UPN Veteran Jakarta menyatakan adanya 'ritual rumit' menjelang Idulfitri. Rakyat menghadapi daur hidup yang sulit dan selalu berulang hampir setiap tahun, yaitu harga barang semakin naik. Upaya pemerintah menyelesaikan masalah ini dengan bantuan sosial, potongan harga maupun pasar murah. ( inilah.com , 14-03-2026) Inflasi Lebaran Sayangnya, semua usaha itu belum sepenuhnya menuntaskan masalah. "Inflasi Lebaran" selalu terulang, ada beberapa alasan mengapa harga barang cenderung naik saat Lebaran. Pertama,  meningkatnya permintaan. Lebaran adalah salah satu hari besar keagamaan di Indonesia sehingga banyak orang membeli barang-barang seperti pakaian, makanan, dan dekorasi. Hal ini meningkatkan permintaan, yang kemudian mendorong harga naik.  Kedua, biaya produksi meningkat yang menjadikan produsen dan penjual harus meningkatkan produksi untuk memenuhi banyak permintaan...

Utang Keluarga Meningkat di Momen Lebaran, Islam Kaffah Solusinya

Gambar
OPINI   Oleh Dewi Kaelani  Aktivis Idiologis Muslimahkaffahmedia.eu.org- Kepala Pusat Makro Ekonomi dan Keuangan, Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M. Rizal Taufikurahman mengungkapkan kepada Media Indonesia, Kamis, 12 Juni 2025, "Bahwa rumah tangga Indonesia semakin tertekan bukan hanya oleh harga barang kebutuhan pokok, tetapi juga oleh kewajiban keuangan yang membesar."  Menurutnya, kondisi tersebut menjadi perhatian serius dalam perspektif ekonomi rumah tangga, karena konsumsi merupakan pilar utama pertumbuhan ekonomi nasional. Namun, kini konsumsi mulai dibayangi oleh tingginya beban utang. Sebagaimana dilansir oleh Metrotvnews.com pada 12 Juni 2025, hasil Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) pada Mei 2025 menunjukkan adanya kenaikan proporsi pendapatan konsumen yang digunakan untuk membayar utang, dari 10,5 persen pada April menjadi 10,8 persen di Mei 2025.  Makna Ramadan dan Lebaran yang Hilang Arah Membengkaknya kebutuhan selama Ramad...

Urbanisasi Tak Terbendung, Kesenjangan Ekonomi Kian Melambung

Gambar
OPINI Oleh Aryndiah  (Aktivis Muslimah)  Muslimahkaffahmedia.eu.org- Lebaran adalah momen istimewa bagi kaum muslim. Momen ini sering disebut sebagai hari kemenangan. Sebab, kaum muslim telah berhasil menjalankan ibadah puasa dan menahan hawa nafsu di bulan Ramadhan. Saat lebaran, banyak hal yang dilakukan, seperti saling bermaaf-maafan, berkumpul dengan keluarga besar, mudik ke kampung halaman, berbagi rezeki, atau menyantap hidangan khas lebaran. Di Indonesia, lebaran identik dengan tradisi mudik. Mudik merupakan momen yang juga dinantikan oleh masyarakat, terutama bagi mereka yang mencari nafkah di ibu kota. Pada momen ini perantau akan kembali ke kampung halaman untuk melepas rindu dengan orang terkasih sekaligus mempererat silaturahmi.  Di lain sisi, momen ini juga dinantikan oleh masyarakat desa, terutama generasi mudanya. Kehadiran para perantau yang kembali ke desa turut mengundang perhatian mereka. Adanya anggapan bahwa kehidupan di kota yang selalu menjanjikan m...

LPG Langka Rakyat yang Disalahkan, Di Mana Peran Negara?

Gambar
OPINI Oleh Nur Fitriyah Asri  Penulis Opini Ideologis Muslimahkaffahmedia.eu.org- Sejak lebaran 2026, gas LPG semakin langka ditemukan, membuat warga panik dan cemas. Kalaupun ada, harganya tinggi mencapai Rp30.000,- per tabung. Harga yang mahal dan langka tersebut membuat warga di daerah pinggiran dan di desa beralih menggunakan kayu bakar untuk memasak. Sedangkan warga di kota terpaksa membeli LPG nonsubsidi atau beralih ke listrik. Kelangkaan dan tingginya harga LPG tentu berdampak terhadap penderitaan rakyat. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalla mengajak masyarakat untuk lebih bijak dalam penggunaan gas LPG 3 kg dengan mematikan kompor setelah masakan matang. Selain itu, Bahlil mengatakan bahwa kelangkaan yang terjadi di pasaran bukan karena pasokan, melainkan adanya pembelian berlebihan atau ketidaktepatan sasaran. Mengingat Indonesia 70% masih impor gas sehingga ada potensi krisis energi di tengah situasi geopolitik, karena itu penting untuk efisie...